Benak: The Beauty of a 'Badly' Written Story
LibraryLidia pernah bertanya di akun Twitternya. Apakah dahulu kamu pernah menulis tangan cerita saat kecil, mengumpulkannya di buku tulis. Kemudian merasa malu begitu membacanya saat dewasa , saking buruknya ? Semalam pertanyaan itu muncul di Instagramku, membangkitkan kenangan yang tertimbun dalam-dalam. Sejak kelas 3 SD, aku mempunyai beberapa buku berisi cerita yang tak selesai. Ada cerita yang mengisahkan tentang keluarga, persahabatan, pokoknya khas anak sekolah dasar. Protagonisnya baik sekali, antagonisnya jahat sekali. Sering pula aku menuliskan permusuhan dua geng di sekolah—saking banyaknya buku dan sinetron yang mengusung tema yang sama. Barulah hari ini, aku berkesempatan untuk membaca kumpulan cerita tak selesai tersebut. Jujur, senyum kecil terbit saat aku membacanya. A da rasa malu, namun aku tetap bangga karenanya. Karena di mataku, ada keindahan di balik tulisan ‘buruk’ itu. Tulisan masa kecil bak reminder tentang berkembangnya diriku sebagai penulis. Ideku l...