Posts

falling for a gold rush

gold rush. telingaku pertama mendengar istilah itu, saat mendengarkan lagu taylor swift dengan judul yang sama. deskripsi itu ia sematkan pada seseorang yang disukai sejuta umat . seseorang yang popularitasnya bukanlah canda semata. seseorang yang tak bisa kau pungkiri indahnya, entah hati maupun parasnya. tujuh belas tahun di dunia, diriku menemukan banyak gold rush di sekitar. baik lelaki maupun perempuan. tak ingin lidahku berdusta. nyatanya, terkadang aku menemukan diriku sendiri menatap cermin. menggerutu, bertanya mengapa aku tak bisa menjadi bagian dari mereka. gold rush yang nampaknya dikerumuni hal-hal baik di dunia. tak ingin aku menutup mata. aku pernah jatuh pada mereka . saat menatap cermin, ada masa di mana aku juga bertanya. akan kemungkinan yang persentasenya teramat kecil. biasanya sesi itu berakhir dengan aku menggelengkan kepala, mengusir fantasi yang tercipta. meski kemudian pertanyaan itu muncul kembali. “apa mungkin kemustahilan terjadi?” tentunya itu tak te...

midnight talk on parking lot

  Lihatlah, gadis itu berjanji akan keluar dari rumah Kara selayaknya manusia normal—dalam hal ini, manusia normal yang dapat berjalan tegak dan pandangan matanya tidak kabur. Yang terjadi, sesuai dengan dugaan Lilian tiga jam lalu, adalah pemandangan gadis yang berjalan sempoyongan ke arah mobil. Matanya tertutup kacamata hijau neon entah milik siapa. Tangannya melambai semangat pada Lilian, seolah tubuhnya yang dibalut dress pendek merah muda akan susah terlihat oleh sahabatnya. Lilian meringis, membuka jendela mobil. “Ayo masuk, kita pulang setelah ini.” Jess mengerucutkan bibirnya. Jelas tak setuju dengan ajakan Lilian. Ia membuka pintu dan duduk di samping Lilian, asal melemparkan sepatu hak tingginya ke jok belakang. “Kita mampir ke Mcdonald dulu. Aku kelaparan, pengen makan kentang goreng.” “Kamu nggak minum-minum kan di dalam?” tanya Lilian seraya berusaha mengendus Jess tanpa ketahuan. Mereka sudah membuat janji, apapun yang terjadi, Jess tak boleh menyentuh minuman ...

siang ini berbeda, mengapa?

Keluargaku tak menyukai siang hari. Saat matahari terang di atas kepala, mereka memilih untuk menyibukkan diri di ruangan masing-masing. Ibuku memilih duduk di kursi goyang dengan tirai tertutup, kakakku mencari kegiatan di ruang bawah tanah. Sementara Ayahku entah di mana. Sudah bertahun-tahun semenjak ia pergi dari rumah ini. Ibuku tak pernah suka membahasnya. Tapi tidak denganku, aku menyukainya. Siang lebih baik dari malam. Meskipun seringkali siang hari membuat kepalaku pusing, di saat itulah aku mendapatkan hiburanku. Hiburan yang kumaksud di sini adalah sekelompok anak yang bermain di taman dekat rumahku. Mereka mengenakan baju yang sama. Yang lelaki mengenakan celana biru muda, rompi kotak-kotak biru muda, dan kemeja putih. Yang perempuan mengenakan padanan sama, yang membedakan hanyalah mereka memakai rok selutut. Kerap kali mereka membawa makanan di dalam plastik. Sembari bermain, mulut mereka menggigit kecil makanan di dalamnya. Hati-hati sekali mereka makan. Sebab takut mak...

mata terjaga, angkasa, gadis remaja

Sebentar lagi, jarum jam yang pendek tubuhnya, akan menunjuk angka dua belas. Seharusnya, tiap insan yang mengalami malam tengah berkelana di alam mimpinya. Ah, barangkali seharusnya bukan kata yang tepat. Sebab aku yakin, ada insan yang matanya masih terbuka. Entah menatap layar ddan tugas yang belum terselesaikan, atau langit-langit ruangan. Bagaimana aku bisa yakin akan ucapanku? Sederhana. Karena gadis itu masih terjaga. Ada guling yang dipeluk erat sang gadis. Pengganti boneka masa kecil yang tak lagi ia miliki di lemari. Orang tuanya berkata, ia tak boleh berpegangan pada masa kecil terlalu lama. Ada piring dengan bekas minyak mengkilat di permukaannya. Mulutnya baru saja merasakan nikmatnya martabak. Berharap setelah perutnya terisi, perlahan ia akan tertidur pulas. Gadis itu bertanya pada cahaya lampu teras. “Apakah kau kelelahan, menyala begitu lama?” Gadis itu mengharapkan jawaban. Sayangnya, lampu teras tak bisa berkedip, memberinya tanda. Gadis itu bertanya pada s...

redup dan menyala

Bagaimana cara membuat lilin meredup? Siramkan air. Tutup telingamu, biarkan otakmu berpikir bahwa teriakan lilin tak nyata. Tutup matamu, biarkan api sang lilin perlahan menyatu dengan udara. Tutup mulutmu, biarkan sang lilin seolah berbicara pada benda tak bernyawa.              Bagaimana cara membuat lilin menyala? Ambil korek api. Lemparkan ke angkasa. Biarkan fakta bahwa korek api jatuh mengenai tanah tanpa dosa. Biarkan fakta bahwa api kini menjalar kemana-mana. Biarkan fakta bahwa ada jeritan panik, tangisan dari mereka yang tak tahu apa-apa. Bagaimana cara melakukan keduanya dalam waktu yang sama? Jadilah pribadi yang dipercaya. Kemudian patahkan percaya hingga mereka tak bisa berkata-kata.   other fics by ashfalia pramudya tanpa rasa direbutnya cincin ajaib dessert

direbutnya cincin ajaib

Pada suatu hari. Di pagi yang cerah. Itu semua adalah awalan klise yang digunakan anak kecil saat membuka cerita mereka. Tak ada yang salah, sebab pemahaman hidup mereka masih sederhana. Namun jangan salah, imajinasi anak kecil lebih liar ketimbang kita yang masih remaja, atau manusia yang telah dewasa. Anak kecil dapat dengan mudah menutup mata. Membayangkan diri mereka sebagai penunggang naga paling mahsyur di dunia fantasi. Di jubah sisik buayanya, ia menyimpan pedang putih yang dibuat dengan bantuan ular raksasa. Ia kemudian membayangkan kawan terdekatnya menjadi seorang bajak laut. Kawan mereka akan mengenakan baju berkerah tinggi, berwarna merah menyala. Bajak laut itu memimpin kapal penuh awak tanpa rambut satupun. Sehingga saat siang hari, kepala kinclong mereka memantulkan sinar matahari. Teman mereka yang satu lagi akan menjadi putri bersayap besar. Mengingatkanmu akan kupu-kupu yang ayu. Sayapnya akan terlipat saat ia tertidur. Dan terbuka lebar saat ia berdiri. Menampil...

dessert

Manis. Impresi semua orang kepadanya. Semanis gaun berwarna merah muda yang ia kenakan. Juga kue penuh krim yang selalu ia santap saat bintang bertebaran. Di hadapan para pelayan, jemari lentiknya memotong kue tersebut dengan pisau bergagang emas. Putri bungsu kerajaan itu merasakan kuenya. Para pelayan bertukar tatap. Akankah sang putri menikmatinya? Senyum indah terbit di wajah sang putri. Para pelayan menghela napas lega. Kadang kala, ada dua senyum indah yang disaksikan pelayan. Dilengkapi dengan tawa renyah putri saat mendengar candaan yang dilontarkan pangeran kerajaan seberang. Kadang musik mengiringi, juga kecupan ringan. Pemandangan itu, di mata pelayan bagai romansa dari buku cerita. Setidaknya, sebelum mulut para pangeran terbuka lebar. Busa putih keluar dari mulutnya. Mengingatkan mereka akan krim putih dalam kue. Yang tak lagi berwarna putih, sebab cipratan darah menodainya. Juga menodai pedang yang tersembunyi di bawah meja makan. Senyum indah terbit di wajah sang...

tanpa rasa

27 Februari 2022 Ada masa di mana, tuts keyboard bagaikan piano. Yang setiap ditekan, melantunkan irama indah. Mengeluarkan kisah dalam benak. Ada masa di mana, tepuk tangan adalah satu-satunya hal yang ditangkap gendang telinga. Lampu sorot menjadi satu hal yang ia rasakan, hangat menerpa tubuhnya di tengah kerumunan. Dan setiap ia merasakannya, bibirnya melengkung ke atas. Tersenyum lebar. Seolah ia ditakdirkan untuk berjaya. Setidaknya, sebelum materi pelajaran sekolahnya berubah. Telinganya menangkap materi penuh istilah asing. Juga tangis di kejauhan, namun matanya tak dapat melihat sumbernya. Sebab kawannya tak lagi bisa ia temui di kanan kirinya. Namun tanpa mulut terbuka, mereka mengerti alasan buliran air meluncur dari mata. Membasahi buku tulis, buku paket, dan layar yang menampilkan tugas sekolah.  Tapi mana bisa ia menangis? Sementara nilai sekolahnya tetap di atas rata-rata, meski tak bisa dikatakan bagus pula. Sekitarnya mencukupi kebutuhannya. Membuatnya merasa nyama...

Natasya: Surat untuk Juragan

Cerita ini menceritakan tentang keseharian Natasya dari novel Amaryllis, novel pertama Ashfalia Pramudya. Novel ini bisa didapatkan Shopee (Kyoona) dan Tokopedia (Kyoona Gallery). Ke depannya, Ashfalia Pramudya akan menuliskan cerita-cerita lain dari dunia Amaryllis di blog Imaji Ashfalia.     *** Natasya memutuskan menghabiskan Minggu pagi di taman belakang akademi. Memberikan matanya waktu istirahat dari buku paket dan pekerjaan rumah. Ia bahkan tak membawa novel yang dipinjam di perpustakaan—saking lelahnya ia terhadap tulisan. “Kita tunggu hasilnya, ya!” Suara Queen menggema di kepalanya. Ketua kamarnya itu tengah memberikan tugas dadakan. Katanya, “Tuliskan pengalaman yang kamu suka dengan masing-masing anak kamar 140. Bisa pengalaman paling menyenangkan, aneh, buat sedih. Pokok yang kamu suka.” Tugas itulah yang membuatnya membawa buku harian dan pena hitam. Namun, sudah dua puluh menit ia duduk di rerumputan. Masih tak ada pengalaman yang muncul di kepalanya....

hubungan ini kubangan.

“Hidup atau mati, kau tengah dicari.” “Lantas apa yang harus kulakukan, sayangku? Berlari?” Darahku mendidih. Bagaimana bisa tak ada keraguan terdengar di kalimatnya? Bagaimana caranya ia bersikap tenang, sementara pisau tengah diacungkan di dadanya? Apakah rasa takut telah dicabut dari dadanya? Atau kegilaan sempurna menguasainya? “Kau tahu tindakanmu gegabah. Sesuai rencana, berapa kali aku harus bilang?!” “Kalau kau merasa tindakanku salah, mengapa tak kau hentikan sejak awal, sayang?” Karena aku pengecut. Karena aku tahu ucapanku tak akan masuk ke dalam otak tebalmu. Sejak awal, aku hanya seorang bawahan tanpa kuasa. Entah mengapa aku terlibat dalam duniamu. Mungkin karena aku masih punya harapan naif. Suatu saat nanti, entah bagaimana, aku bisa mengubahmu. Lihatlah, bahkan sekarang kau tertawa. Pastilah kau menganggapku hina. “Sayang—” “Berhenti! Berhenti memanggilku dengan kata itu. Kalau kau tak menganggapnya serius, berhenti!” Alismu tertarik, senyum tipis ter...