Cerbung: Rollercoaster (1)
Aku masih ingat betapa meriahnya promosi taman hiburan baru di kotaku. Dicap sebagai taman hiburan keluarga terbaik dan terbesar, berita pembukaannya memenuhi surat kabar hingga seminggu lamanya. Hari Minggu, tepat satu bulan taman hiburan buka, aku akhirnya berkesempatan memasuki dunia di balik gerbang emas. Terburu-buru, kutarik Ayah dan Bunda keluar dari mobil. Begitu telingaku menangkap lantunan nada gembira, adrenalinku ikut terpacu karenanya. Kalau Bunda tidak panik menyuruhku berjalan pelan-pelan, mungkin aku akan pulang dengan satu dua plester di tubuh—saking cepatnya aku berlari menuju loket. Tingkah antusiasku itu ditertawakan oleh sang penjaga berseragam merah-kuning. Dari balik bilik kacanya, lelaki berambut gundul itu memintaku hati-hati. Tangannya memberikan tiga lembar tiket, mempersilahkan keluarga kecilku untuk memulai petualangan di dalam sana. Kami disambut oleh tokoh-tokoh kartun yang berjoget jenaka mengikuti irama. Beberapa jahil menarik tangan Bunda, mengajak...