Benak: Banggakah Dirimu, Masa Kecilku?
Bagaimana dirimu tiga tahun, lima tahun, sepuluh tahun ke depan? Pertanyaan itu menghidupkan target, mimpi, dan harapan yang belum terwujud. Tentunya eksistensi pertanyaan ini tak lagi asing di kehidupan. Di usiaku ini, aku sudah mendengarkannya setidaknya tiga kali—bisa lebih, bisa kurang. Dan bertambah dewasa, aku yakin pertanyaan itu akan makin sering terdengar telinga. Namun, tak pernah sekalipun orang bertanya padaku tentang hal ini. Tentang pendapat diriku di masa kecil akan diriku saat ini. Kau tahu, kawan. Bila seseorang menanyakan hal ini padaku dahulu, mungkin aku akan menjawab dengan wajah sayu. “Ashfalia kecil akan kecewa,” jawabku muram. “Ashfalia kecil akan kecewa, ia tumbuh menjadi remaja yang tak lagi mengikuti kontes sesering dahulu. Berlomba melawan murid dari berbagai sekolah, mendapat banyak trofi dan sertifikat. Satu-satunya kontes yang ia lakukan di masa SMP hanya dua kali. Dan dua-duanya harus dibujuk gurunya, bukan inginnya sendiri.” “Dahi Ashfalia kecil tentun...