hubungan ini kubangan.
“Hidup atau mati, kau tengah dicari.” “Lantas apa yang harus kulakukan, sayangku? Berlari?” Darahku mendidih. Bagaimana bisa tak ada keraguan terdengar di kalimatnya? Bagaimana caranya ia bersikap tenang, sementara pisau tengah diacungkan di dadanya? Apakah rasa takut telah dicabut dari dadanya? Atau kegilaan sempurna menguasainya? “Kau tahu tindakanmu gegabah. Sesuai rencana, berapa kali aku harus bilang?!” “Kalau kau merasa tindakanku salah, mengapa tak kau hentikan sejak awal, sayang?” Karena aku pengecut. Karena aku tahu ucapanku tak akan masuk ke dalam otak tebalmu. Sejak awal, aku hanya seorang bawahan tanpa kuasa. Entah mengapa aku terlibat dalam duniamu. Mungkin karena aku masih punya harapan naif. Suatu saat nanti, entah bagaimana, aku bisa mengubahmu. Lihatlah, bahkan sekarang kau tertawa. Pastilah kau menganggapku hina. “Sayang—” “Berhenti! Berhenti memanggilku dengan kata itu. Kalau kau tak menganggapnya serius, berhenti!” Alismu tertarik, senyum tipis ter...