Posts

Showing posts from August, 2019

Puisi: Iri

Rasa iri itu ada dan dapat dirasa Namun hanya karena keberadaannya nyata Bukan berarti manusia bebas merasakannya Para pendahulu berujar, Alangkah baiknya bila hidup di dunia Tanpa rasa iri melekat pada jiwa Hanya akan menyakiti diri sendiri, tambah mereka Maafkan aku, pendahuluku Hari ini, ucapan itu kuanggap angin lalu Aku diselimuti selimut iri Aku iri pada penerima Selama ini gelarku adalah merpati Selama ini jabatanku adalah penasihat Aku lelah, pendahuluku Aku juga ingin menumpahkan badai emosi Semata-mata untuk menumpas rasa sepi Tapi siapa sang penasihat? Yang bisa kujadikan tempat berlabuh, bila hati tengah terombang-ambing Penasihat lamaku hilang ditelan bumi Penerusmu ini, para pendahulu, belum bisa menemukan penggantinya Sampai detik ini Dan pada akhirnya Aku harus memeluknya sendiri, lagi 13 Agustus 2019 Ashfalia Pramudya

Puisi: Di Balik Rotasi

ada seorang anak yang menyelimuti dirinya sendiri hantu bernama sepi mengitari meskipun perempuan itu sudah mengusir, menyuruhnya pergi anak perempuan itu kalut di luar kamar, rintik hujan dan petir yang bergemuruh  hanya menambah keruh ia rindu rindu pada lembaran lamanya yang saat itu lepas dari tangan mungilnya ia rindu rindu pada insan yang namanya tertulis di kisah hidupnya yang saat itu hilang, lenyap dibawa seseorang yang baru ia gundah haruskah ia melangkah ke depan kemudian membuang masa lalu seiring waktu berjalan  haruskah ia duduk di tengah-tengah kenangan seraya berharap kembalinya mereka tak hanya sebatas impian kemudian ia tuliskan segala takutnya kalutnya gundahnya rindunya ia tuangkan segalanya termasuk air mata yang menetes, membasahi pipinya 27 Agustus 2019 Ashfalia Pramudya selamat ulang tahun, Rotasi

Puisi: untuk anak manusia yang patah hatinya

wahai, anak manusia jangan khawatir kau ingat dulu, saat matamu belum bersitatap dengannya saat namanya masih menjadi sosok asing di dalam benak hidupmu baik-baik saja mungkin saat ini pendar kisahmu menghilang tak apa, semua pernah mengalaminya aku pun sama jalani kembali hidupmu, nak belajarlah berdamai dengan hati, peluk erat rasa sakit yang menghampiri kemudian bangkit mengalirlah bagai air kelak, di tengah lembaran barumu pendar kisah yang lenyap akan kembali tanpa kau sadari pijarnya lebih terang, lebih cerah dari sebelumnya dan bila waktu telah berkata "ya, anak manusia ini siap" sosok yang lebih baik akan menghampiri wahai anak manusia 13 Agustus 2019 Ashfalia Pramudya

Puisi: cara menyenangkan hati

"caranya mudah turuti perintahnya hargai dirinya berikan pujian padanya asal jangan coba menyenangkan dua hati meskipun keduanya punya ikatan rekat  karena seerat apapun rantai yang dimiliki pasti ada beda di dalam diri" jawab seorang perempuan yang bahkan tak tahu, hati mana yang harus ia senangi perintah siapa yang harus ia turuti perempuan itu aku. 7 Juni 2019 Ashfalia Pramudya

Benak: Standar Keren Menurut Anak

Pagi ini, hati kecilku ingin merasakan suasana baru. Dengan buku bank soal dan tepak pensil di tangan, aku meninggalkan rumah. Aku berjalan di bawah langit biru cerah--dalam hati aku menyesal, seharusnya aku bangun lebih pagi dan menikmati langit ungu kebiruan. Di kepalaku telah tertulis tujuan perjalanan singkatku. Taman publik perumahanku. Alih-alih mempelajari materi dan mengerjakan soal di ayunan, aku memilih duduk di 'kursi' berwarna kelabu. Kursi itu cukup sederhana. Ia hanya memiliki dua kaki di ujung, yang menopang alas panjang nan kuat. Tak ada sandaran. Tapi tak apa. Setidaknya masih ada pepohonan rimbun yang menjadi atap. Kicauan ribut burung-burung, baik mereka yang hinggap di ranting, maupun menjejak rerumputan liar. Gonggongan anjing dari rumah seorang pria. Hiburanku di pagi hari masih ada. Membuatku enggan mengerjakan soal dan berpusing-pusing ria di tempat lain. Hari ini hiburanku bertambah satu lagi. Beberapa menit setelah otakku melebur dengan tulan...

Benak: pagi dan sepi

dahulu, aku menghabiskan pagi dengan membaca buku pelajaran. entah itu pelajaran yang akan aku dapatkan di sekolah hari itu, atau pelajaran yang kemarin kuserap di bangku sekolah. teh terhidangkan di hadapan. camilan terkadang tersedia di meja makan. tapi hati kecilku tetap merasa bosan. aku mulai menciptakan alasan. pagiku sedikit demi sedikit mulai bervariasi. aku menawarkan diri untuk menyiram tanaman. aku menghabiskan lima belas menit untuk duduk dan berimajinasi di teras, kataku biar bisa menghirup udara segar. padahal sejatinya, aku bosan menatap baris dan angka. untungnya, orang tuaku tak mempermasalahkan hal itu. mereka tahu, ashfalia kecil, anak kedua mereka, butuh hiburan. aku tak pernah 'menikmati' pagi. pagiku terlalu penuh alasan. setidaknya semua itu berlanjut sebelum sepi menyusup tanpa permisi.  sendiri membuatku jiwaku perlahan membusuk, ada di ambang hidup dan mati.  emosiku naik turun. aku mulai menyalahkan keadaan dan diri sendiri. tap...

Puisi: rasaku ini...semu?

rasa semu aku tak paham orang bilang rasa ada macam macam tapi kenapa mereka menyukai saat rasa ceria senang semangat menguar namun muntah saat sedih marah kesal menyapa ia bilang depresi dibuat diri sendiri pertanyaannya bila dibuat diri sendiri apakah itu masih tergolong rasa? atau justru ilusi? bila depresi, yang notabene suatu keadaan berkaitan dengan perasaan dianggap kesemuan oleh mereka lantas keadaan berkaitan dengan perasaan apa yang dianggap bukan suatu ilusi? mereka tak menjawab kuputuskan pergi ke laut lepas mencari kunci mulut yang mereka buang ke sana semasa kecil "permisi tuan lautan, mereka tak mau menjawab pertanyaan saya karena saya butuh jawaban, bisa berikan kuncinya?" 23 Juni 2019 Ashfalia Pramudya

Puisi: Ingin Diriku

Ingin diriku melihat kalian di kesempatan lain Mungkin saat kita ada di bangku kuliah Sibuk mengerjakan skripsi, lalu menoleh dan menemukan satu sama lain di co-working space Walau tak menjamin sapaan keluar dari mulut Ingin diriku menemui kalian di lain waktu Barangkali saat gaji pertama ada di tangan Kita berjumpa di restoran, tempat perayaan gaji pertama dilaksanakan Walau tak menjamin makanan yang terhidang akan kita santap bersama Untuk saat ini Mari berjalan di jalan berbeda Mari hidup tanpa bayangan masing-masing Entah sampai kapan 23 November 2018 Ashfalia Pramudya

Puisi: Rotasi

Detik ini, aku membuka masa lalu Detik itu, aku menutup dan membakarnya Detik sebelumnya, jemariku meraih lembaran baru Detik setelahnya, kakiku berjalan menapak harapan Hari ini, aku mengembangkan senyum lebar Siang hari, senyum itu layu di bawah sinar mentari Sore hari, selaput bening mendominasi mata Malam hari, sebutir kristal jatuh di bawah bintang bulan Tak akan ada yang tahu Apakah tanganku akan menggenggam kenangan tentangmu Atau justru membiarkannya terbawa angin esok hari 27 Agustus 2018 Ashfalia Pramudya