Cerbung: Rollercoaster (1)
Aku masih ingat betapa
meriahnya promosi taman hiburan baru di kotaku. Dicap sebagai taman hiburan
keluarga terbaik dan terbesar, berita pembukaannya memenuhi surat kabar hingga
seminggu lamanya.
Hari Minggu, tepat satu
bulan taman hiburan buka, aku akhirnya berkesempatan memasuki dunia di balik
gerbang emas. Terburu-buru, kutarik Ayah dan Bunda keluar dari mobil. Begitu
telingaku menangkap lantunan nada gembira, adrenalinku ikut terpacu karenanya.
Kalau Bunda tidak panik menyuruhku berjalan pelan-pelan, mungkin aku akan
pulang dengan satu dua plester di tubuh—saking cepatnya aku berlari menuju
loket. Tingkah antusiasku itu ditertawakan oleh sang penjaga berseragam
merah-kuning. Dari balik bilik kacanya, lelaki berambut gundul itu memintaku
hati-hati. Tangannya memberikan tiga lembar tiket, mempersilahkan keluarga kecilku
untuk memulai petualangan di dalam sana.
Kami disambut oleh
tokoh-tokoh kartun yang berjoget jenaka mengikuti irama. Beberapa jahil menarik
tangan Bunda, mengajak wanita itu berdansa bersama. Aku pikir, gelengan Ayah lebih
dari cukup untuk membuat para badut mengurungkan niatnya.
Tapi Bunda tetaplah Bunda.
Walau sudah kepala tiga, jiwanya masih bak remaja. Tanpa sungkan diterimanya
ajakan berdansa, kakinya mulai melangkah ke tengah area. Bunda membaur bersama
dengan badut tokoh kartun itu, menarikan tarian yang entah dipelajarinya kapan.
“Dika, ayo sini Dika! Ikut
nari sama Bunda,” serunya semangat.
Aku
bergidik, cepat-cepat menggelengkan kepala. “Nggak mau, Bunda. Mending Bunda
menari sama Ayah, deh.”
“Lho,
kok Ayah dibawa-bawa?” Ayah ikut menggeleng tak terima. Pandangannya beralih
dariku ke Bunda, yang sibuk mengepakkan tangan bak sayap ayam. “Ayo Tyas,
kasihan anakmu sudah tidak sabar main di dalam. Atau kamu kutinggal di sini
sampai sore, ya.”
Bunda
meringis malu. “Tapi kita foto dulu, ya.”
Lima
kali jepretan dan beberapa kali pertukaran ucapan ‘terima kasih’, kami bertiga
baru melangkah memasuki zona utama. Di zona inilah, kami dimanjakan dengan
berbagai wahana. Mulai dari komedi putar yang digemari anak-anak, rumah hantu
yang tetap menyeramkan di siang hari—Ayah berkali-kali berteriak ketakutan,
hantunya bahkan ikut kaget dan panik gegara tingkah lelaki satu itu.
Di
antara semua permainan, rollercoaster menjadi wahana favorit kami
bertiga. Emosi seolah dicampur aduk di sana. Kami dibuat takjub dengan
pemandangan taman hiburan yang ramai dari ketinggian. Dibuat deg-degan karena
lambatnya laju kereta menuju puncaknya. Lelaki di depanku masih bisa tertawa,
dengan sombong berkata bahwa ia berani menaikinya. Berusaha sekali dirinya
terlihat kuat dan keren di depan pacarnya.
Bualan lelaki itu
menghilang sempurna. Karena tanpa aba-aba, kereta yang kami naiki meluncur
jatuh. Dengan segera teriakan nyaring keluar dari mulutnya, dan juga mulut kami
yang menaikinya. Ia berteriak panik, memanggil ibunya dengan suara nyaring.
Sampai pacarnya tertawa keras, dengan sengaja mengungkit bualannya beberapa
detik lalu.
Di tengah-tengah, suara
di kepalaku menyuruhku mengangkat tangan tinggi-tinggi.
Dan begitu aku mengikuti
inginnya, aku mencium aroma kebebasan.
Di atas sini, aku tak
dapat merasakan apa-apa selain adrenalin yang memacu. Aku seolah tak mempunyai
beban dalam hidupku. Pekerjaan rumah yang belum tuntas, nilai yang ditorehkan
dengan tinta merah, amukan guru gegara nilaiku yang tak punya peningkatan.
Semua beban hidupku, seolah lepas begitu saja dibawa rasa bahagia.
Kuhirup napas panjang,
dan diriku ikut berteriak kencang.
Tak
terasa, nyaris seharian kami menghabiskan waktu di taman hiburan. Langit biru
terang yang memayungi kami saat masuk ke dalam perlahan berganti. Berubah. Menjadi
gradasi jingga dan merah. Musik gembira mulai memelan seiring dengan keluarnya
pengunjung dari area. Sebenarnya, diriku sudah kenyang akan wahana dan makanan
yang dijual di dalamnya. Tapi sebagian diriku menolak pergi. Aku masih ingin
tinggal. Merasakan perasaan bebas lebih lama lagi.
“Kamu
senang pergi ke taman ini, Dika?”
Di mobil, saat aku tengah
mencari posisi yang nyaman untuk tidur, pertanyaan itu keluar dari mulut Bunda.
Kantuk tak jadi menyerang tubuhku. Mataku terbuka lebar, badanku kembali duduk
tegak. Aku mengangguk semangat. “Senang banget, Bunda. Kapan-kapan kita pergi
lagi, ya? Janji deh, nilaiku bakal lebih bagus lagi.”
“Wih, benar nih nilainya
akan lebih bagus?” tanya Ayah tanpa memalingkan pandangan dari jalanan yang
macet. “Kalau benar kamu mau belajar lebih keras, bakal Ayah ajak lagi.”
Yess! Aku
mengepalkan tangan girang.
Bunda
tertawa, bahkan tanpa bertanya ia sudah tahu jawabannya. “Kalau begitu, setiap
kamu ada pencapaian bagus, kita akan ke taman hiburan saat liburan. Bagaimana?”
Sempurna
melotot mataku. “Beneran, Bunda?”
Bunda
bukan tipikal orang yang suka mengumbar janji. Aku sampai harus mencubit
tanganku, kemudian mencubit pipi Bunda yang sedikit berisi. Demi memastikan bahwa
semua ini bukan mimpi. Bunda, setengah meringis kesakitan melanjutkan
ucapannya. “Habisnya kamu terlihat senang sekali selama bermain. Sudah jarang
Bunda lihat kamu tertawa selebar itu.”
Malu-malu,
aku menggaruk rambut cepakku.
Pagi
pertama selepas dari taman hiburan, aku bangun lebih awal dari Ayah dan Bunda.
Aku menanggapi janji keduanya dengan serius. Mataku asyik membaca buku
pelajaran. Menggarisi hal yang tidak kupahami, niatnya akan kutanyakan di
sekolah. Ditemani dengan segelas cokelat hangat, jajanan, perlahan-lahan aku
terbiasa dengan rutinitas itu. Tak ada lagi teriakan Bunda agar aku segera
bangun. Tak ada pula tatapan kaget orang tuaku saat menemukanmu fokus belajar
di ruang tengah.
Hanya
tatapan bangga yang kutemukan, disusul dengan nilai berwarna biru.
Perlahan
namun pasti, piala berwarna kekuningan memenuhi sudut kamarku.
Rupanya benar kata guruku, dorongan
positif dari orang tua akan membawa anak ke arah yang positif pula. Tak
terhitung berapa kali diriku mengunjungi taman hiburan, mengecap udara
kebebasan. Sang petugas loket berambut gundul—yang rambutnya mulai tumbuh—selalu
tertawa melihat kedatanganku dan Ayah Bunda. “Habis menang lomba apa kamu,
Dika?” tanyanya sembari menyiapkan tiket.
Kebiasaan
itu perlahan hilang, memudar, saat aku melangkah ke jenjang yang lebih tinggi.
Posisi kampus yang ada di luar provinsi, ditambah dengan kegiatan kampus yang
tak berujung, membuatku jarang mengunjungi orang tua. Kami hanya bertukar kabar
lewat surat. Di dalamnya, kutuliskan berbagai pencapaianku selama di kampus.
Kusertakan foto. Sebagai bukti bahwa anak kecil berambut cepak itu telah bertumbuh
dewasa. Menjadi lelaki jangkung berkacamata, dengan senyum lebar yang selalu
menghiasi wajahnya.
Di sela-sela kuliah, aku membuka jasa desain bersama beberapa kawanku. Awalnya hanya bisnis kecil-kecilan, tapi pamor kami merangkak naik. Kelompok beranggotakan empat orang itu mulai dikenal berbagai sekolah yang membutuhkan tim desain. Kemampuan kami sangat dihargai, terlepas dari fakta kami belum menyentuh kata lulus. Uang desain itu kugunakan untuk menabung, dan membelikan orang tuaku telepon genggam yang memungkinkan kami bertegur sapa lewat chat dan video call.
Telepon genggam itu membawa bahagia di keluargaku. Khususnya Bunda. Wanita yang rambutnya mulai beruban itu tak pernah absen meneleponku setiap Sabtu. Bertanya bagaimana kabarku, keseharianku, dan bercerita tentang dirinya pula.
“Bunda
kangen sekali, Dika. Kalau kamu ada waktu, pulang ya?”
“Iya
Bunda.” Aku menyanggupi pintanya. “Dika pasti akan segera pulang, kok.”
Telepon genggam itu membawa bahagia ke keluargaku.
Hingga siang ini.
Bukan kabar gembira yang
kuterima. Bukan suara riang Bunda yang kudengar. Bukan pula suara serak Ayah.
Itu suara lelaki. Lelaki yang asing. Namun nada terburu-burunya membuatku
bergegas mengemasi barang-barang. Memanggil taksi di luar area kampus. Sambil
berusaha bertanya padanya, apa yang terjadi.
“Maafkan kami, Pak Dika.
Tapi Ibu Tyas dan Bapak Gading...”
***
Untuk pertama kalinya
setelah tiga tahun, aku kembali melangkahkan diri ke taman hiburan. Wajahku
lesu. Berbanding terbalik dengan keluarga kecil yang anak-anaknya berpose
bersama para putri. Atau dengan pasangan muda yang berebut permen kapas.
Loket dan peta di tangan
kananku tak membantu apa-apa. Setelah kakiku
memijak tanah pemakaman, aku seolah hilang arah. Dika, lelaki yang selama ini
dikenal sebagai manusia penuh rencana dan optimis. Kini tak ada bedanya dengan
balon merah yang mengempis, tergeletak tak berguna di jalanan.
Di tengah
kebingunganku, aku sama sekali tak menyadari bahwa kakiku tengah mengantarku ke
suatu titik. Baru kusadari saat aku berhenti memandang peta. Mendongakkan
kepala, lantas tersenyum miris.
Di atas sana,
segerombolan remaja berseragam tengah berebut. Memilih kursi terbaik, juga
kawan terbaik untuk menjadi teman sebaris. Petugas ribut mengingatkan mereka
untuk tidak ribut, juga meminta semuanya untuk menitipkan tas dan barang lain
yang rawan jatuh.
“Selamat datang di wahana favorit taman
bermain kita. Roller coaster, tempat
yang tepat untuk berteriak, melepaskan rasa lelah di udara. Jangan lupa untuk
letakkan barangmu di pos penjaga, kawan-kawan!” Pengeras suara di pos
penjaga mulai memutarkan rekaman suara, menyambut para pengunjung yang akan
menaiki roller coaster.
Bayangan
Bunda dengan bando bertema animasi terkenal melintas di kepalaku. Ganti
bayangan Ayah, yang tersenyum lebar seraya melambaikan tiket taman bermain.
Bayangan itu hilang secepat kilat. Diganti dengan suara dokter yang mengabarkan
kematian keduanya. Kemudian memori lain saling berlarian, wajah Bunda dan Ayah
muncul berkali-kali. Suara dokter itu terdengar lagi, bersahutan dengan tawa
Bunda dan Ayah.
Perutku
mendadak mual. Seolah ada tornado yang meraung ganas di dalamnya.
“Bersiap semuanya! Mari kita mulai! Satu… Dua… Tiga!”
Kemudian
orang-orang berteriak.
Bukan, bukan
mereka yang menaiki roller coaster yang
tengah menjerit antusias. Melainkan mereka yang tengah mengantre untuk
menaikinya. Teriakan memanggil tim medis bersahutan, diikuti dengan pertanyaan
berbalut kekagetan. Aku sendiri, apa yang aku lakukan?
Akulah
manusia yang tiba-tiba terjatuh. Tergeletak di tanah. Lemah.
***
Tunggu bagian selanjutnya! Baca juga karya Ashfalia Pramudya lainnya:
Puisi: Terkungkung dalam Mimpi
Benak: Rinduku pada Balkon Sekolah
Comments
Post a Comment