Benak: Banggakah Dirimu, Masa Kecilku?

Bagaimana dirimu tiga tahun, lima tahun, sepuluh tahun ke depan? Pertanyaan itu menghidupkan target, mimpi, dan harapan yang belum terwujud. Tentunya eksistensi pertanyaan ini tak lagi asing di kehidupan. Di usiaku ini, aku sudah mendengarkannya setidaknya tiga kali—bisa lebih, bisa kurang. Dan bertambah dewasa, aku yakin pertanyaan itu akan makin sering terdengar telinga.

Namun, tak pernah sekalipun orang bertanya padaku tentang hal ini.

Tentang pendapat diriku di masa kecil akan diriku saat ini.

Kau tahu, kawan. Bila seseorang menanyakan hal ini padaku dahulu, mungkin aku akan menjawab dengan wajah sayu. “Ashfalia kecil akan kecewa,” jawabku muram.

“Ashfalia kecil akan kecewa, ia tumbuh menjadi remaja yang tak lagi mengikuti kontes sesering dahulu. Berlomba melawan murid dari berbagai sekolah, mendapat banyak trofi dan sertifikat. Satu-satunya kontes yang ia lakukan di masa SMP hanya dua kali. Dan dua-duanya harus dibujuk gurunya, bukan inginnya sendiri.”

“Dahi Ashfalia kecil tentunya berkerut melihat kelakuannya saat ini. Ia jarang membaca novel serius, ia tak mau keluar dari zona nyamannya. Bacaannya terlampau ringan. Ia sering menyerah, tak meneruskan membaca novel. Bahkan ia sempat ragu untuk membeli buku. Ayolah, sejak kecil hanya buku yang disuka. Masa ia ingin melepaskan hobinya begitu saja?”

“Ashfalia kecil makin berkerut dahinya saat melihat rapornya. Nilai Ashfalia besar masih jauh di atas rata-rata, namun tak ada yang sempurna. Makin heran lagi dirinya saat Ashfalia belajar setengah hati di beberapa mata pelajaran. Serius, ini aku saat besar? Tanya Ashfalia kecil.

Tapi satu telepon di Maret ini mengubah cara pandangku. Telepon dari seorang sahabat yang berbaik hati mendengarkan keluh kesah dan cerita. Saat berbincang, kusadari bahwa banyak waktu kuhabiskan untuk memuaskan ekspektasi penuh racun. Ekspektasi bahwa aku harus bekerja keras dan belajar berbagai hal, agar bisa kembali seperti Ashfalia dahulu. Juga ekspektasi agar aku bisa seperti teman-temanku, yang di mataku pencapaiannya tak berhenti bahkan setelah pandemi.

Sahabatku memintaku istirahat, benar-benar istirahat, seusai ujian tengah semester. Demi kesehatanku sendiri, aku melakukan sarannya.

Dan di situlah, kalimat negatif Ashfalia kecil menguap dari kepalaku.              

Dalam sesi istirahatku, aku memulai apa yang dahulu kutinggalkan. Aku kembali membaca novel, dan menemukan novel bagus di tengah pencarian. Katwalk, karya Maria Murnane. Tentang Katrina yang berhenti bekerja dan pindah ke New York seorang diri. Aku menyukai pesan Maria di dalam buku tersebut. Bahwa tak ada salahnya untuk melakukan hal yang kamu sukai, meski orang sekitar menganggap hal itu kecil, tak bermakna, dan kurang realistis.  

Aku menyentuh pensil warna, membuka buku mewarnai, dan membuka halaman dengan sketsa matryoshka. Dua, tiga, tahun lalu, aku yang dalam kondisi stres memutuskan mewarnai. Di tengah proses, aku frustasi dengan diriku sendiri. Kenapa boneka matryoshka ini hanya kuwarnai bagian rambutnya saja? Kenapa rambutnya berwarna ungu, hijau, dan warna aneh lainnya? Kenapa hasil karyaku jelek sekali?

Aku menarik napas, mengingat kembali perkataan seseorang di internet. Lebih baik kesalahan tercoret di kertasmu, ketimbang kertasmu kosong tanpa isi. “Baiklah, mari kita lakukan.”

Ada sesi refleksi diri yang kulakukan, seraya mataku menikmati indahnya angkasa raya. Tentang diriku yang meninggalkan kebiasaan buruk sebelum karantina. Aku yang mendalami agama lewat sosial media. Yang membentuk kebiasaan lebih baik, juga mendapat ilmu baru nyaris setiap harinya.

Kini, diriku berpikir kembali, apakah Ashfalia kecil akan kecewa dengan diriku saat ini?     

Mengetahui novel yang kubaca, sketsa yang selesai, diriku yang terbangun jam tiga pagi, dan tulisan ini, sepertinya gelengan kepala adalah jawaban yang tepat. Karena buatku saat ini, Ashfalia kecil akan bangga padaku. Pada pencapaianku yang tak hanya terbatas pada angka dan piala. Pada pencapaianku untuk menjadi orang yang lebih baik, dan lebih mencintai diri sendiri.

Kita semua akan tumbuh dewasa.

Tapi kita tidak harus meninggalkan hal-hal yang membuat kita bahagia, kan?

Shana, dikutip dari buku Katwalk (Maria Murnane)


              


 

Comments

Popular posts from this blog

Cerbung: Rollercoaster (1)

Cerpen: Sederhana

Benak: Rinduku pada Balkon Sekolah