hubungan ini kubangan.

“Hidup atau mati, kau tengah dicari.”

“Lantas apa yang harus kulakukan, sayangku? Berlari?”

Darahku mendidih. Bagaimana bisa tak ada keraguan terdengar di kalimatnya? Bagaimana caranya ia bersikap tenang, sementara pisau tengah diacungkan di dadanya? Apakah rasa takut telah dicabut dari dadanya? Atau kegilaan sempurna menguasainya?

“Kau tahu tindakanmu gegabah. Sesuai rencana, berapa kali aku harus bilang?!”

“Kalau kau merasa tindakanku salah, mengapa tak kau hentikan sejak awal, sayang?”

Karena aku pengecut. Karena aku tahu ucapanku tak akan masuk ke dalam otak tebalmu. Sejak awal, aku hanya seorang bawahan tanpa kuasa. Entah mengapa aku terlibat dalam duniamu. Mungkin karena aku masih punya harapan naif. Suatu saat nanti, entah bagaimana, aku bisa mengubahmu.

Lihatlah, bahkan sekarang kau tertawa. Pastilah kau menganggapku hina.

“Sayang—”

“Berhenti! Berhenti memanggilku dengan kata itu. Kalau kau tak menganggapnya serius, berhenti!”

Alismu tertarik, senyum tipis terlukis di wajahmu. “Ah, permainannya menjadi semakin menyenangkan. Seseorang yang selalu menurutiku, sekarang membentakku tanpa malu. Katakan, apa yang setelah ini akan kau lakukan. Menyerahkanku pada raja? Membuat busuk dalam penjara?”

“Membuatmu sadar,” aku mengucap tegas. “Itu yang akan aku lakukan.”

Tawa. Tawa bengismu memekakkan telinga. Namun juga simfoni bagi hatiku yang lemah.

“Dengan apa?” Di tengah tawa, kau bertanya. “Dengan kau terus berdiri di sisiku? Kau pikir kata-kata bijakmu akan menyelamatkanku? Manusia yang sudah terkorupsi, yang akal sehatnya sudah tak berfungsi. Naif, naif sekali dirimu.”

Tangannya meraih buku di atas meja. Tanpa dikatakan, aku sudah mengenali apa isinya. Buku tentang peri dan para putri. Kebaikan melawan kejahatan. Satu-satunya hal yang membangunkan sisi manusia dalam dirinya.

Dan sekarang, pegangan hidupnya terbelah menjadi dua.

“Malam nanti, kita laksanakan rencana kedua. Lenyapkan siapapun yang menghalangi kita.”

Tanganku terkepal. Tolak! Tolak usulannya, tolak rencananya!

“Aku yakin kamu memahaminya. Dan aku yakin, aku tak perlu mempertanyakan kesiapanmu, bukan?”

Tolak!

Senyumnya manis. Tak lagi sinis.

Tolak!

Tawanya dahulu pernah menghangatkan. Masih bisa kudapatkan saat ini, bukan?

Tolak!

Aku bangkit, berjalan menuju kegelapan. Bukan untuk melarikan diri darinya, dari lubang hitam yang mencengkeram. Aku bangkit. Mempersiapkan ketajaman benda yang harus kugenggam beberapa jam lagi. Untuk kesekian kali. Dan aku tak pernah sanggup berlari.

Cinta itu buta. Memang benar adanya.

Comments

Popular posts from this blog

Cerbung: Rollercoaster (1)

Cerpen: Sederhana

Benak: Rinduku pada Balkon Sekolah