Cerpen: Sederhana
Tangan Isabella bergetar hebat. Jantungnya berdenyut lebih cepat, seirama dengan napasnya yang makin tak beraturan, bertempo berantakan. Air matanya mengalir bebas bak air terjun. Membasahi gaun biru selututnya.
Di antara kotak kado dan pita gemerlapan, Isabella memeluk dirinya sendiri. Kakinya tertekuk, sementara lengannya terkalung. Memberikan pelukan pada badannya yang gemetar tak keruan.
Ia kembali terisak. Menyayat hati mereka yang mendengarnya.
Sayangnya, tak ada yang mendengar 'nyanyian' putus asanya.
Mereka terlalu sibuk berpesta, berdansa mengikuti irama musik gembira yang dimainkan seorang DJ ternama di lantai bawah. Beberapa mungkin telah dibutakan oleh berbagai jenis makanan mewah yang terhidang. Sibuk menguyah, mengambil ini itu dengan rakus di piring besar. Memberi makan raksasa di perut mereka. Euforia sukses membuat mereka terlena. Lupa akan fakta, bahwa sang tokoh utama telah meninggalkan pesta sejak lama.
Isabella menggeleng. Tidak. Bahkan tanpa pesta dan musik, mereka tak peduli. Tak ada yang peduli. Mana mau mereka peduli?
Jemarinya meraih kertas yang tergeletak di sampingnya. Tak kuasa ia pegangi kertas itu dengan kuat. Ia takut, kertas penyebab kristal matanya keluar itu, akan koyak karena kuku panjang yang menjadi 'kanvas' lukisan langit sore, indah sekali. Seindah pesta ulang tahun ketujuh belasnya malam ini--menurut orang lain, bukan dirinya sendiri.
Diciumnya kertas itu. Dipeluknya dan dielusnya. Mata cokelat tua yang gemerlapan sebab air matanya, menatap kertas itu dengan tatapan hangat. Tatapan yang berarti, "Terima kasih." Dan tatapan itu, lebih nyata ketimbang senyum di setiap foto Isabella saat ia menerima piala juara satu dan sertifikat lomba.
Benda mati itu diperlakukan layaknya seorang bayi yang baru merasakan udara bumi. Siapapun akan melempar tatapan geli dan bingung pada gadis itu bila mengetahui 'kegiatan' ini. Di kepala mereka akan muncul spekulasi aneh. Apakah karena kebanyakan belajar, Isabella jadi gila? Apakah Isabella mulai berhalusinasi, menganggap kertas itu bayi, akibat jadwal padat yang ia jalani setiap hari, dua puluh empat jam tujuh hari?
Membayangkan segala skenario itu di otaknya membuat matanya secara refleks melihat kotak kado yang berserakan di atas karpet cokelat tua hangat. Didominasi warna merah muda dan biru laut--dua warna kesukaannya--tangan Isabella sudah membuka semuanya. Ada yang memberikan jam tangan keluaran terbaru, voucher makan di restoran terkenal, satu set make up kit yang ia tak yakin akan ia pakai, dua pasang sepatu hak tinggi, perhiasan edisi khusus, satu set baju yang katanya hanya ada beberapa di dunia, satu set make up lagi, tiga bandana berbeda warna, tas bermerek dengan desain elegan berwarna emas dan hitam, ensiklopedia kucing--hewan kesukaannya--dan novel--yang tentunya akan segera dimasukkan Ibunya ke gudang karena dianggap menggangu waktu belajarnya.
Namun, semua kartu ucapan hanya memberikan kesan ganjil di hatinya.
Semuanya sibuk memberikannya ucapan, menuliskan harapannya di atas kartu ucapan. Tak ada yang terkesan tulus di mata Isabella. Semenjak ia tak sengaja curi dengar pembicaraan kawannya di kamar mandi, yang sibuk menjadikan ulang tahunnya ajang pamer kekayaan lewat kado yang mereka berikan, hari-harinya menjadi muram. Kado dari orang tuanya juga tak membuat senyum terbit di wajahnya. Dua orang yang membesarkannya itu hanya memberikan kecupan ulang tahun, dan menganggap pesta mewah adalah kado yang tepat untuk anak semata wayangnya. Hal itu terjadi setiap tahun, meskipun Isabella berkali-kali meminta mereka untuk berhenti.
Mengapa Isabella meminta keduanya berhenti? Karena sesungguhnya, Isabella tak pernah memintanya.
Permintaannya justru hal yang sangat sederhana. Sesederhana kalimat yang tertulis di kertas yang sedari tadi ia pegang. Permintaan itu tak pernah ia suarakan lantang, selantang suaranya saat mengikuti lomba pidato nasional. Isabella tak ingin dianggap aneh. Sudah cukup dirinya dianggap aneh karena kegilaannya akan belajar--yang sebenarnya ia lakukan untuk mendapat perhatian orang tuanya yang sibuk.
Permintaan anehnya muncul saat ia berusia dua belas tahun. Ia baru saja memenangkan olimpiade matematika tingkat nasional. Di saat bersamaan, gurunya membagikan hasil ulangan IPA dan Bahasa Indonesia, dan lagi-lagi ia mendapatkan nilai sempurna. Senyum cerah terpahat di wajahnya saat ia sampai di rumah. Isabella kecil sibuk menyenandungkan irama gembira. Tak sabar menunggu Ibu dan Ayah yang ia sayangi sampai di rumah.
Jam sembilan malam, Isabella putus asa menunggu. Matanya memerah. Memberi tanda bahwa gadis cilik itu mengantuk. Tepat saat ia selesai merapikan bukunya dan berjalan menuju kasur, bersiap menjelajah ke manapun alam bawah sadar membawanya, sinar lampu mobil menyinari lembut kamarnya. Ia tak jadi tidur. Cepat-cepat ia berlari menuju lantai bawah setelah mengambil medali dan ulangannya. Ayah dan Ibunya telah pulang!
"Ayah! Ibu! Apa kabar?" tanyanya gembira.
Ayahnya mengangguk. Lelaki berkumis tipis itu melepas dasinya dan memberikan jas hitamnya pada pelayan di sampingnya. "Baik, Isabella sayang. Kok kamu belum tidur?"
Isabella terkekeh menggemaskan. "Soalnya aku mau menunjukkan ini, Yah, Bu. Lihat deh, aku menang olimpiade matematika. Biasanya kan aku juara dua, kali ini aku juara satu, Yah, Bu! Keren, kan??" Suara melengking tinggi Isabella menunjukkan bahwa ia tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. Isabella mengalungkan medali emasnya. Dengan senyum lebar Ia menunjukkan medali itu pada Ayahnya yang duduk di sofa ruang tamu, kemudian berlari kecil untuk memamerkannya pada Ibunya.
Tapi aneh, kenapa Ibu dan Ayah tak tersenyum dan memberikannya ucapan selamat seperti biasa? Apa aku kurang hebat? Pikir Isabella.
Keraguan serta kebingungan yang timbul di hatinya justru membuat Isabella makin penasaran. Kalau medali ini tak bisa membuat orang tuanya tersenyum, mungkin ini bisa. Batin Isabella seraya mengangkat kedua ulangannya di antara suasana dingin ruang tamu. "Lihat deh, dua ulanganku juga dapat nilai sempurna. Kata Bu Yuri, nilaiku selalu stabil dan aku bisa jadi rangking satu di angkatanku. Keren kan..."
Suara Isabella memelan, bahkan nyaris tak terdengar di ujung kalimat. Gadis kecil itu sadar saat itu juga, bahwa Ayah dan Ibunya kompak mengacuhkannya. Juga medali dan ulangan yang ia pamerkan. Kejadian itu sukses membuat Isabella terpukul. Ketidakpedulian orang tuanya dianggapnya sebagai tanda, bahwa prestasinya belum cukup untuk menerbitkan senyum bangga di wajah mereka.
Apalagi setelah kalimat ini meluncur bebas dari mulut Ayahnya. "Kamu kan sudah sering menang dan dapat nilai bagus, Isabella. Terus kita harus bilang apa? Kan sudah biasa."
Sudah biasa. Pencapaian yang membuat teman Isabella iri padanya, bahkan sampai membuat gadis berambut ikal itu dijauhi di sekolah, dianggap sudah biasa oleh Ayahnya. Tak ada yang istimewa.
Malam itu, di balkon kamarnya, Isabella menangis hebat. Dalam hati, ia berharap suatu saat, dirinya meraih suatu prestasi yang dianggap tak biasa. Tak sekedar menang olimpiade. Tak sekedar mendapat nilai sempurna. Harus lebih dari itu. Ia harus mendapat yang 'istimewa' agar orang tuanya yang sibuk, bisa menaruh perhatian padanya.
Agar sebuah kalimat keluar dari mulut mereka.
Jam sembilan malam, Isabella putus asa menunggu. Matanya memerah. Memberi tanda bahwa gadis cilik itu mengantuk. Tepat saat ia selesai merapikan bukunya dan berjalan menuju kasur, bersiap menjelajah ke manapun alam bawah sadar membawanya, sinar lampu mobil menyinari lembut kamarnya. Ia tak jadi tidur. Cepat-cepat ia berlari menuju lantai bawah setelah mengambil medali dan ulangannya. Ayah dan Ibunya telah pulang!
"Ayah! Ibu! Apa kabar?" tanyanya gembira.
Ayahnya mengangguk. Lelaki berkumis tipis itu melepas dasinya dan memberikan jas hitamnya pada pelayan di sampingnya. "Baik, Isabella sayang. Kok kamu belum tidur?"
Isabella terkekeh menggemaskan. "Soalnya aku mau menunjukkan ini, Yah, Bu. Lihat deh, aku menang olimpiade matematika. Biasanya kan aku juara dua, kali ini aku juara satu, Yah, Bu! Keren, kan??" Suara melengking tinggi Isabella menunjukkan bahwa ia tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. Isabella mengalungkan medali emasnya. Dengan senyum lebar Ia menunjukkan medali itu pada Ayahnya yang duduk di sofa ruang tamu, kemudian berlari kecil untuk memamerkannya pada Ibunya.
Tapi aneh, kenapa Ibu dan Ayah tak tersenyum dan memberikannya ucapan selamat seperti biasa? Apa aku kurang hebat? Pikir Isabella.
Keraguan serta kebingungan yang timbul di hatinya justru membuat Isabella makin penasaran. Kalau medali ini tak bisa membuat orang tuanya tersenyum, mungkin ini bisa. Batin Isabella seraya mengangkat kedua ulangannya di antara suasana dingin ruang tamu. "Lihat deh, dua ulanganku juga dapat nilai sempurna. Kata Bu Yuri, nilaiku selalu stabil dan aku bisa jadi rangking satu di angkatanku. Keren kan..."
Suara Isabella memelan, bahkan nyaris tak terdengar di ujung kalimat. Gadis kecil itu sadar saat itu juga, bahwa Ayah dan Ibunya kompak mengacuhkannya. Juga medali dan ulangan yang ia pamerkan. Kejadian itu sukses membuat Isabella terpukul. Ketidakpedulian orang tuanya dianggapnya sebagai tanda, bahwa prestasinya belum cukup untuk menerbitkan senyum bangga di wajah mereka.
Apalagi setelah kalimat ini meluncur bebas dari mulut Ayahnya. "Kamu kan sudah sering menang dan dapat nilai bagus, Isabella. Terus kita harus bilang apa? Kan sudah biasa."
Sudah biasa. Pencapaian yang membuat teman Isabella iri padanya, bahkan sampai membuat gadis berambut ikal itu dijauhi di sekolah, dianggap sudah biasa oleh Ayahnya. Tak ada yang istimewa.
Malam itu, di balkon kamarnya, Isabella menangis hebat. Dalam hati, ia berharap suatu saat, dirinya meraih suatu prestasi yang dianggap tak biasa. Tak sekedar menang olimpiade. Tak sekedar mendapat nilai sempurna. Harus lebih dari itu. Ia harus mendapat yang 'istimewa' agar orang tuanya yang sibuk, bisa menaruh perhatian padanya.
Agar sebuah kalimat keluar dari mulut mereka.
***
Lima tahun berlalu. Isabella tumbuh menjadi seorang gadis yang dewasa pikirannya. Koleksi piala, medali, dan sertifikatnya terus bertambah setiap tahunnya. Orang tuanya harus membuat ruangan khusus, karena lemari kaca kamarnya tak lagi muat menampung bukti kecerdasan otak gadis itu.
Lima tahun berlalu. Kalimat yang ia inginkan belum juga terucap.
Tapi Isabella sabar menunggu. Ia mulai berpikir, bahwa mungkin kalimat itu tak keluar dari mulut orang tuanya. Mungkin dari mulut Irene dan Tatyana, kedua sahabat yang ia kenal saat SMP. Saat ia menginjak kelas delapan, Isabella pikir Adriel, lelaki yang ia sukai pertama kali, adalah orang yang akan mengatakan kalimat itu padanya. Saat Isabella masuk SMA, hati kecilnya berharap, Dino, kakak kelas yang menjadi tutor fisikanya di kelas sepuluh, mengabulkan permintaannya karena keduanya dekat layaknya saudara.
Namun, orang-orang itu tak juga mengabulkan permintaannya.
Tapi hidup siapa yang tahu? Hari ini, saat ia baru saja akan menguburkan permintaan itu setelah sabar berharap lima tahun lamanya, sebuah surat diterimanya. Diletakkan di antara kotak kado. Semua tentang surat itu sungguh sederhana. Berbanding terbalik dengan pemberian tamu lainnya yang serba gemerlap dan mewah. Amplopnya hanyalah amplop putih biasa. Bahkan kertasnya menggunakan kertas HVS, bukan kertas mahal yang dibeli di toko pernak-pernik.
Isabella yang masih kecewa dengan segalanya, membalik amplop malas. Tak ada perubahan di wajahnya saat melihat nama Brian Pramestya tertulis di sana. Ia kenal sang pengirim surat. Brian adalah lelaki pendiam yang gemar menggambar. Teman sekelasnya itu harus ia ajari fisika setiap hari Rabu di perpustakaan. Hubungan keduanya bisa dibilang tak begitu baik. Tak jarang Brian membuat Isabella frustasi gegara butuh tiga kali pertemuan untuk memahami suatu materi yang Isabella anggap mudah.
Tapi Isabella tak bisa bohong. Ada sepercik rasa penasaran menghampirinya. Selama ini, ia hanya berbicang dengan lelaki berambut berantakan itu saat sesi mengajar. Surat macam apa yang akan ia berikan? Apakah ucapan terima kasih karena telah mengajarinya?
"Nggak bakal mungkin juga sih. Nilainya tidak meningkat bahkan setelah dua bulan pertemuan," kata Isabella, menyanggah pikirannya sendiri sambil membuka amplop. Diambilnya kertas HVS itu. Dibacanya saksama.
Kemudian, tanpa Isabella sadari, ia sudah terisak.
Lima tahun berlalu. Kalimat yang ia inginkan belum juga terucap.
Tapi Isabella sabar menunggu. Ia mulai berpikir, bahwa mungkin kalimat itu tak keluar dari mulut orang tuanya. Mungkin dari mulut Irene dan Tatyana, kedua sahabat yang ia kenal saat SMP. Saat ia menginjak kelas delapan, Isabella pikir Adriel, lelaki yang ia sukai pertama kali, adalah orang yang akan mengatakan kalimat itu padanya. Saat Isabella masuk SMA, hati kecilnya berharap, Dino, kakak kelas yang menjadi tutor fisikanya di kelas sepuluh, mengabulkan permintaannya karena keduanya dekat layaknya saudara.
Namun, orang-orang itu tak juga mengabulkan permintaannya.
Tapi hidup siapa yang tahu? Hari ini, saat ia baru saja akan menguburkan permintaan itu setelah sabar berharap lima tahun lamanya, sebuah surat diterimanya. Diletakkan di antara kotak kado. Semua tentang surat itu sungguh sederhana. Berbanding terbalik dengan pemberian tamu lainnya yang serba gemerlap dan mewah. Amplopnya hanyalah amplop putih biasa. Bahkan kertasnya menggunakan kertas HVS, bukan kertas mahal yang dibeli di toko pernak-pernik.
Isabella yang masih kecewa dengan segalanya, membalik amplop malas. Tak ada perubahan di wajahnya saat melihat nama Brian Pramestya tertulis di sana. Ia kenal sang pengirim surat. Brian adalah lelaki pendiam yang gemar menggambar. Teman sekelasnya itu harus ia ajari fisika setiap hari Rabu di perpustakaan. Hubungan keduanya bisa dibilang tak begitu baik. Tak jarang Brian membuat Isabella frustasi gegara butuh tiga kali pertemuan untuk memahami suatu materi yang Isabella anggap mudah.
Tapi Isabella tak bisa bohong. Ada sepercik rasa penasaran menghampirinya. Selama ini, ia hanya berbicang dengan lelaki berambut berantakan itu saat sesi mengajar. Surat macam apa yang akan ia berikan? Apakah ucapan terima kasih karena telah mengajarinya?
"Nggak bakal mungkin juga sih. Nilainya tidak meningkat bahkan setelah dua bulan pertemuan," kata Isabella, menyanggah pikirannya sendiri sambil membuka amplop. Diambilnya kertas HVS itu. Dibacanya saksama.
Kemudian, tanpa Isabella sadari, ia sudah terisak.
***
Halo, Isabella. Ini Brian.
Maafkan otakku yang tidak sepintar otakmu. Gara-gara aku, kamu harus meluangkan waktu untuk mengajari fisika, padahal jadwalmu padat setengah mati. Sumpah, sebenarnya aku juga mau mengerti. Tapi nggak tahu ya, otakku susah kuajak kerja sama.
Kemarin Rabu, ingat waktu kita bertengkar gegara nilai fisikaku justru menurun? Sebenarnya saat kamu menyuruhku pulang, aku bersembunyi di balik rak buku. Niatnya mau meminta maaf, gegara aku selalu saja tidak paham. Tapi tiba-tiba kamu menangis. Kupikir karena kamu frustasi denganku, tapi tidak. Justru kamu bercerita tentang hidupmu sambil menangis. Sa, aku mungkin tak sepintar kamu. Mungkin koleksi pialaku tak sebanyak punyamu. Tapi kamu harus tahu satu hal, Sa.
You're doing good, Isabella Marisa. You're doing good.
Hanya karena orang tuamu tidak bilang apa-apa saat kamu juara dan dapat nilai bagus, bukan berarti prestasimu kurang keren. Prestasimu istimewa. Hanya karena teman-temanmu menjadikan ulang tahunmu ajang pamer kekayaan, bukan berarti kamu sendirian di sekolah. Masih ada Irene, Tatyana, Kak Dino, dan aku. Muridmu paling menyebalkan.
Kalau kamu merasa capek, kamu boleh istirahat, nangis sepuas-puasnya. Tapi jangan berhenti, oke? Percaya sama dirimu sendiri, ya, Sa?
Also, if you need a hand, remember that I have two.
Selamat ulang tahun.
***
20 Oktober 2019
Ashfalia Pramudya
Comments
Post a Comment