Benak: Rinduku pada Balkon Sekolah
Ashfalia Pramudya. 11 April 2020.
Sebenarnya, tak banyak pemandangan yang ditawarkan
balkon sekolah. Bila menunduk, hanya dua saung yang berjejer di sisi kanan, dan
pot tanaman di sisi kiri yang bisa dinikmati. Bila kepala sedikit mendongak,
yang terlihat sejauh mata memandang hanyalah gedung pencakar langit—kebanyakan
masih dalam proses pembangunan. Biasa saja. Maksudku, apa yang kamu harapkan
dari sekolah yang ada di area perkotaan?
Rasanya biasa saja, sampai kemudian surat edaran itu
sampai di tangan. Kami semua harus di rumah. Menghindari keramaian, menjaga
diri, karena mencegah lebih baik daripada mengobati. Semenjak itu, ada rindu
yang menyeruak.
Teringatlah aku, di balkon itu, ada banyak kenangan
yang tertulis di setiap jengkalnya. Sudah berapa air mata yang aku keluarkan.
Entah itu air mata dalam hati, atau yang aku keluarkan, dengan sahabatku di
sisi. Ada berbagai cerita dengan beragam tokoh yang tersebar di sana. Entah itu
kisahnya yang bahagia, insan yang tengah lara, dia yang seenaknya, atau rasa
suka yang tengah mekar di hatinya. Rahasia kecil kami bagi, kami simpan dalam
diri. Kelak, saat kita bertemu lagi, kita akan tertawa. Saling tanya, “Mengapa
dulu kami bisa seperti itu, ya?”
Banyak dari kawanku, yang harus berpisah dengan balkon
itu, bahkan sebelum kalimat perpisahan dikumandangkan. Mereka akan mengepakkan
sayapnya, mencari rumah yang baru. Mereka yang mengepakkan sayap itu, tak hanya
berpisah dengan balkon dan sejuta kenangannya. Namun juga dengan kami, yang
memutuskan tetap berdiri.
Sekarang, tak hanya rasa rindu yang menyeruak. Rasa
sedih unjuk diri. Seharusnya bulan ini, kami masih bisa bersantai di balkon
itu. Atau mungkin di kantin, mungkin juga di dalam saung. Berbagi cerita,
berbagi mimpi, berbagai harapan. Saling menguatkan.
Tawa, dan mungkin tangis sesekali menghampiri.
Lagu-lagu akan kami dendangkan, dan kelak akan kami ingat sebagai lagu
perpisahan. Tapi masa itu tak bisa kami alami. Karena jangankan bernyanyi
bersama, bertemu saja kami tak bisa. Walau kalimat penuh rasa rindu kami
tuangkan, kami kirimkan pada kawan yang kami sayang, rasanya tetap saja
berbeda.
Sejatinya, bukan balkon itu yang menyebarkan rasa
nyaman. Tapi mereka yang menemani, adalah alasan mengapa balkon itu istimewa.
Pandemi merusak semuanya,salah satunya merusak kebahagiaan anak anak yang biasa disekolah..
ReplyDeleteRindu anak pada sekolahnya,pada gurunya ,pada temannya,hingga pada balkonnya...
Entah kapan semua akan berakhir dan keadaan normal kembali...
Pandemi merusak semuanya,salah satunya merusak kebahagiaan anak anak yang biasa disekolah..
ReplyDeleteRindu anak pada sekolahnya,pada gurunya ,pada temannya,hingga pada balkonnya...
Entah kapan semua akan berakhir dan keadaan normal kembali...
Pandemi merusak semuanya,salah satunya merusak kebahagiaan anak anak yang biasa disekolah..
ReplyDeleteRindu anak pada sekolahnya,pada gurunya ,pada temannya,hingga pada balkonnya...
Entah kapan semua akan berakhir dan keadaan normal kembali...
Balkon sekolahku dulu yang nampak hanyalah nisan nisan yang beraturan.
ReplyDeleteBalkon sekolahku dulu yang nampak hanyalah nisan nisan yang beraturan.
ReplyDelete