Puisi: Iri
Rasa iri itu ada dan dapat dirasa
Namun hanya karena keberadaannya nyata
Bukan berarti manusia bebas merasakannya
Para pendahulu berujar,
Alangkah baiknya bila hidup di dunia
Tanpa rasa iri melekat pada jiwa
Hanya akan menyakiti diri sendiri, tambah mereka
Maafkan aku, pendahuluku
Hari ini, ucapan itu kuanggap angin lalu
Aku diselimuti selimut iri
Aku iri pada penerima
Selama ini gelarku adalah merpati
Selama ini jabatanku adalah penasihat
Aku lelah, pendahuluku
Aku juga ingin menumpahkan badai emosi
Semata-mata untuk menumpas rasa sepi
Tapi siapa sang penasihat?
Yang bisa kujadikan tempat berlabuh, bila hati tengah terombang-ambing
Penasihat lamaku hilang ditelan bumi
Penerusmu ini, para pendahulu, belum bisa menemukan penggantinya
Sampai detik ini
Dan pada akhirnya
Aku harus memeluknya sendiri, lagi
13 Agustus 2019
Ashfalia Pramudya
Comments
Post a Comment