Benak: pagi dan sepi


dahulu, aku menghabiskan pagi dengan membaca buku pelajaran. entah itu pelajaran yang akan aku dapatkan di sekolah hari itu, atau pelajaran yang kemarin kuserap di bangku sekolah. teh terhidangkan di hadapan. camilan terkadang tersedia di meja makan. tapi hati kecilku tetap merasa bosan.

aku mulai menciptakan alasan. pagiku sedikit demi sedikit mulai bervariasi. aku menawarkan diri untuk menyiram tanaman. aku menghabiskan lima belas menit untuk duduk dan berimajinasi di teras, kataku biar bisa menghirup udara segar. padahal sejatinya, aku bosan menatap baris dan angka. untungnya, orang tuaku tak mempermasalahkan hal itu. mereka tahu, ashfalia kecil, anak kedua mereka, butuh hiburan.

aku tak pernah 'menikmati' pagi. pagiku terlalu penuh alasan. setidaknya semua itu berlanjut sebelum sepi menyusup tanpa permisi. 

sendiri membuatku jiwaku perlahan membusuk, ada di ambang hidup dan mati. 

emosiku naik turun. aku mulai menyalahkan keadaan dan diri sendiri.

tapi karenanya, aku belajar mengapresiasi hal kecil. sinar keemasan sang surya yang menerangi. warna indah langit yang tanpa sadar menerbitkan pelangi terbalik di wajah. angin sepoi-sepoi, mengajak rumput dan ranting pohon menari. burung-burung yang menyanyikan lagu menyambut pagi. kupu-kupu yang terbang, menyapaku dan teman dekatku, sepi.

sepi selalu kuanggap bencana.

tapi hari ini, aku akan berterima kasih padanya. 

terima kasih sepi. karenamu, pagi tak nampak sama lagi.


25 Agustus 2019
Ashfalia Pramudya


Comments

  1. Kereen mba Ai.. sukses trus ya.. ditunggu cerita2 selanjutnya..

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Cerbung: Rollercoaster (1)

Cerpen: Sederhana

Benak: Rinduku pada Balkon Sekolah