Benak: Standar Keren Menurut Anak
Pagi ini, hati kecilku ingin merasakan suasana baru. Dengan buku bank soal dan tepak pensil di tangan, aku meninggalkan rumah. Aku berjalan di bawah langit biru cerah--dalam hati aku menyesal, seharusnya aku bangun lebih pagi dan menikmati langit ungu kebiruan. Di kepalaku telah tertulis tujuan perjalanan singkatku. Taman publik perumahanku.
Alih-alih mempelajari materi dan mengerjakan soal di ayunan, aku memilih duduk di 'kursi' berwarna kelabu. Kursi itu cukup sederhana. Ia hanya memiliki dua kaki di ujung, yang menopang alas panjang nan kuat. Tak ada sandaran. Tapi tak apa. Setidaknya masih ada pepohonan rimbun yang menjadi atap. Kicauan ribut burung-burung, baik mereka yang hinggap di ranting, maupun menjejak rerumputan liar. Gonggongan anjing dari rumah seorang pria. Hiburanku di pagi hari masih ada. Membuatku enggan mengerjakan soal dan berpusing-pusing ria di tempat lain.
Hari ini hiburanku bertambah satu lagi. Beberapa menit setelah otakku melebur dengan tulang dan sendi--materi yang kupelajari--suara berdesing ribut terdengar dari belakangku. Suara ini akrab di telingaku, karena aku sering mendengarnya saat jalan-jalan sore. Tapi di pagi hari? Ini pemandangan baru bagi indraku.
"Kakak kok sendirian?" tanya anak laki-laki, matanya melihatku yang masih berbalut baju tidur merah muda, dan buku bank soal yang kuletakkan di kursi. Ia bertanya dari sepeda kuningnya yang diberi botol di belakang rantainya--atau apalah itu, aku tak tahu persis. Katanya agar sepedanya bisa menimbulkan suara berdesing, seperti knalpot motor.
Jawabku tak kalah polosnya, "Bosan di rumah, dek." Anak itu mengangguk-angguk.
"Kakak rumahnya di mana?"
"Di gang belakang situ." Telunjukku menunjuk gang di belakang tubuhnya. Ia menoleh, mengikuti arah telunjukku, walau aku tak yakin ia memahami maksud ucapanku.
"Rumahnya kakak ada berapa tingkat?"
Pertanyaan bernada polos, sepolos baju merah yang dikenakan anak lelaki itu membuat batinku terlempar pada masa kecil. Saat itu, hal-hal seperti 'rumahmu berapa tingkat' adalah hal yang sangat penting. Semakin banyak, semakin dianggap keren dirimu oleh kawan sekelas. Bahkan hal seperti tas sekolah berwujud kopor dan tempat pensil besar bertingkat menjadi definisi keren atau tidaknya dirimu. Entah dari mana standar ini muncul.
Gegara pertanyaan anak itu, aku jadi berpikir. Sebenarnya apa yang membuat anak kecil melontarkan pertanyaan itu? Tentunya kepolosan menjadi alasan utama. Tapi pasti ada sesuatu yang mereka lihat atau baca. Sesuatu yang membuat standar kerennya seorang anak, muncul di tengah kehidupan polos nan lugu mereka.
Seharusnya pertanyaan itu tak pernah ada. Standar itu harusnya hilang ditelan lubang hitam. Karena anak hanya akan merasa gagal, merasa tidak sekeren kawannya, bila mereka sadar hidup yang dijalaninya tak memenuhi 'standar'. Kemungkinan seorang anak mengucilkan diri sendiri sebab merasa tak sehebat kawannya tak bisa dipungkiri. Kemungkinan anak yang tak memenuhi standar dijauhi kawannya sendiri, lebih besar lagi.
Seharusnya, jurang pembeda semacam itu tak perlu ada.
Untung saja, pertanyaan itu berhenti terlontar saat mereka mengenyam pendidikan di kelas yang lebih besar. Mereka yang makin dewasa seiring waktu berjalan, sadar. Pertanyaan semacam itu hanya membuat mereka terdengar kekanak-kanakan. Sudah ada topik yang lebih penting ketimbang jumlah kendaraan yang mereka punya.
Untung saja.
25 Agustus 2019
Ashfalia Pramudya
Hehe emang pas jaman kecil kalo rumah dah tingkat 2 tu beda
ReplyDeleteDah keliatan keren gitu ye
DeleteIya 😀 Nantikan terus cerita baru Ashfalia, ya, kak!
DeleteWaaaaah ... Saya suka sekali membaca postingan ini. Mengalir. Diksinya benar-benar dipikirkan. Dan yang paling penting adalah daya kritis yang menguar di dalamnya. Tinggal ditajamkan lagi.
ReplyDeleteSelamat ya, Ai!
Terus menulis dan menuangkan apa pun yang Ai gelisahkan.
Terima kasih atas apresiasinya, Kak Lalu 💞 Nantikan terus cerita baru Ashfalia, ya, kak.
DeleteKeren ai...berasa baca novel panjang... berharap msh panjang cerita yg mau dibaca ...tnya uda hbs 😀
ReplyDeleteTerima kasih 💞 Nantikan terus cerita Ashfalia ya!
Delete