Cerpen: Merdeka dalam Realita

Ashfalia Pramudya. 13 Agustus 2020

Juara 2 Lomba Cerpen Kemerdekaan Homeschooling Kak Seto Surabaya (SMA)


10 Agustus 2000

Bendera itu terkoyak. Menghancurkan jalinan antara merah dan putih.

“Ini yang terakhir,” ucap Dahlia pada Dirga. Suaranya tersengal. Wajahnya merah. Namun bukan keberanian yang terlukis di sana, melainkan amarah. Di wajah itu, tak ada pula riak rasa bersalah, karena telah seenaknya berbuat pada simbol kemerdekaan bangsa. Gadis itu justru terlihat bahagia. Sang Saka Merah Putih telah hancur bentuknya.

Tapi kepuasannya tak berhenti di sana. Mata memerahnya menatap nanar dua kain berbeda warna tersebut. dirobeknya sekali lagi, lantas dilemparnya ke sembarang arah. Leher Dirga serasa tercekik dibuatnya—ia tak tahan bendera itu diperlakukan tak pantas. “Tolong berhenti, Dahlia.”

“Aku yang seharusnya meminta Ayah berhenti,” balas Dahlia tak kalah sengit. “Padahal sudah berbulan-bulan lalu, aku meminta Ayah untuk tidak usah ikut mengurus tujuh belasan di kompleks. Ayah tahu aku tidak pernah suka”

“Kamu takut Ayah capek? Ayah walau sudah jelek, keriput, masih kuat—”

“Berhenti bercanda, Yah!”

Dirga menghela napas, Dahlia dalam kondisi seperti ini, tentunya tak akan lebur hanya dengan senda gurau dan sikap tak seriusnya. “Ya sudah, Ayah tidak akan bercanda. Ayah akan serius, seperti yang Dahlia mau. Tapi Dahlia duduk di sebelah Ayah dulu ya?”

Bisunya gadis berkaus putih itu adalah tanda penolakan. Namun, ia tak pernah sanggup berlama-lama marah—apalagi pada Dirga. Seiring dengan luruhnya benteng bernama gengsi, gadis itu berjalan mendekati ayahnya. Menyanggupi permintaannya.

Meleburnya ego sang anak disambut Dirga dengan senyum. Perlahan, jemarinya lembut mengelus rambut panjang anaknya. “Padahal di sekolah sudah dijelaskan, bahwa ada takdir yang bisa dirubah dan tidak bisa. Kenapa Dahlia tidak mau mengerti?”

“Karena Ayah bersikap aneh.” Dahlia berujar lirih, kepalanya tertunduk layu. “Ayah kehilangan seseorang yang paling disayangi di hari kemerdekaan. Seharusnya sekarang Ayah merasa sedih, marah, kecewa, benci. Bukan antusias merayakannya.”

“Dahlia, kematian seseorang tidak ada yang tahu waktunya. Dan membenci sesuatu, tak akan bisa mengubah apa yang sudah terjadi, nak.”

Gadis itu menggeleng. “Tapi kalau aku tidak menjadi pengibar bendera tahun lalu, Bunda tidak akan buru-buru pergi ke sekolah hanya untuk melihat upacara. Kalau Bunda tidak ke sekolah, kecelakaan itu tidak akan—”

“Sssttt...” Dirga menempelkan jemarinya ke mulut Dahlia. “Berhenti menyalahkan dirimu sendiri, Dahlia. Ini bukan salah siapa-siapa. Mau kamu tidak menjadi pengibar bendera sekalipun, kalau sudah takdirnya Bunda, kita tidak bisa berbuat apa-apa.”

Dahlia termenung, mencerna nasihat Dirga. Dalam diamnya, matanya kembali melihat bendera merah putih yang tadi dikoyak atas nama amarah. Kalau para pejuang bangkit dari alam kuburnya, sudah pasti cacian akan dihujankan padanya. Jangankan pejuang, kawan-kawan sesama paskibranya tentu akan merasa kecewa. Bagaimana bisa pengibar bendera andalan sekolah, memperlakukan bendera bak barang rongsokan tak berharga?

“Kamu diam di sini dulu, ya nak. Ayah akan mengambilkan sesuatu.”

Dahlia tidak mengangguk, tak pula menggeleng. Ia membiarkan Dirga untuk bangkit dari kursi, berjalan ke arah rak di pojok ruang keluarga. Beberapa kali lelaki yang rambutnya penuh uban itu terhenti gerakannya, seolah tak yakin dengan tindakannya. Beberapa kali ia membuka, mengeluarkan, dan membolak-balik buku-buku. Hingga akhirnya lelaki itu berbalik. Berjalan ke arah Dahlia dengan senyum hangat, serta selembar foto di tangannya.

“Ayah ingin Dahlia lihat foto ini, sebelum Ayah mulai bercerita,” pinta Dirga seraya memperbaiki posisi duduknya di sofa.

Dahlia ikut memperbaiki posisi duduknya. Satu detik, dua detik, tiga detik. Dahlia hanya menganggap itu foto biasa—hanya sepasang kekasih di suatu pesta. Pada detik kesepuluh, barulah matanya membulat terpana. “Ini Bunda dan Ayah waktu muda?”

“Tahun 1975, waktu kami usianya masih 20 tahun,” jelas Dirga.

“Bunda cantik sekali, pantas saja Ayah suka,” komentar Dahlia. Tatapannya tak bisa lepas dari bunda, yang nampak ayu dengan kebaya merah.“Sementara Ayah, sedari dulu berpakaiannya tak pernah berlebihan, ya. Selalu sederhana.” 

“Bukan tidak pernah berlebihan,” koreksi Dirga. “Tapi keluarga Ayah tidak mampu membeli baju seindah baju—kemeja Ayah saja pinjam tetangga. Karena jangankan beli baju, membeli bahan pokok saja kadang tak mampu. Berbeda sekali dengan Bunda yang mapan, serba berkecukupan.”

Dahlia lagi-lagi dibuat membisu akan kalimat Dirga. Semakin lama ia menatap foto itu, semakin banyak pula perbedaan yang ia temukan antara ayah dan bundanya. Bagaimana baju Sinta, bundanya, terlihat berkilau, sementara kemeja batik Dirga terlihat lusuh dan tua. Dan lihatlah bagaimana bundanya terlihat sehat, sementara ayahnya nampak sekali tak tercukupi gizinya.

“Kamu ingin tahu, mengapa Bunda dan Ayah bisa menikah?” tanya Dirga seraya menggenggam tangan Dahlia—di mana di jari manisnya, tersemat cincin pernikahan sang bunda. “Kamu ingin tahu, kenapa Ayah tetap antusias merayakan hari kemerdekaan?”

Pelan, Dahlia menganggukkan kepala.

“Karena Ayah tengah merayakan hari di mana Ayah merdeka, nak. Dari status Ayah sebagai orang melarat tak berpendidikan, dari seseorang yang tak berharga hanya karena kasta.” Lengkungan indah senyum terbentuk di wajah Dirga. Mata lelaki itu berkaca-kaca, seolah masa lalu tengah terputar kembali di hadapannya.   

“Ayah ingin kamu tahu tentang masa lalu Ayah dan Bunda. Dahlia mau mendengarkan?”

Bahkan sebelum pertanyaan itu diutarakan, Dahlia telah memasang telinga dan fokus melihat ayahnya. Diiringi dengan kicauan burung di halaman rumah, Dirga memulai kisahnya.

***

15 Agustus 1973

“Ingat Dirga, ini rumah saudagar kaya. Macam-macam sedikit, bisa jelek namamu. Bisa jelek nama keluargamu. Bahkan sampai cucumu lahir, bisa saja tabiat burukmu diungkit oleh mereka. Pokoknya jangan macam-macam kau.” peringat Indah.

“Astaga, Mbak Indah. Kita hanya mau ambil bendera, bukannya mau datang meminang anak saudagar itu,” tawa Dirga sembari mengusap dahinya yang basah akan keringat. Candaannya tentu saja tak dianggap serius oleh tetangganya—ia justru malah diberikan sentilan di dahi.  

“Yah, setidaknya kita harus terlihat apik, Dirga. Biar mereka tahu kalau kaum melarat seperti kita ini, masih punya sopan santun. Oh iya, tadi kamu sudah kunyah daun sirih belum?”

Dirga melongo. Ditatapnya tak percaya gadis yang usianya tiga tahun lebih tua itu. “Mbak, tidak perlu sampai menguyah daun sirih juga kali. Tanpa daun sirih juga mulutku sudah wangi, baunya seperti melati—aduh!”

“Kamu menolak permintaan Mbak Indah, siap-siap disentil lagi,” ancam Indah galak. Tak peduli dengan Dirga yang mengelus dahi, mengaduh kesakitan, ia mengambil kertas koran berisi daun sirih dari saku dasternya. Tangannya mengambil dua helai daun, lantas memaksa Dirga untuk mengambil satu. 

            “Memangnya kenapa sih, Mbak, kita harus terlihat apik di depan orang-orang?” ujar Dirga jengkel. “Percuma kita memantaskan diri di depan mereka yang kaya. Kalau aslinya miskin, melarat, ya tetap akan diperlakukan beda.”

            Indah menghela napas. Ia tak bisa mengingkari bahwa yang dikatakan Dirga benar adanya. Gadis itu tahu seberapa angkuhnya masyarakat berdompet tebal di kampungnya, dan betapa kolotnya pikiran mereka. Ia tahu bahwa sepanjang perjalanan, berbagai pasang mata memberikan tatapan sinis, lengkap dengan kalimat mencemooh untuk keduanya.

Untuk apa masyarakat miskin pergi ke kawasan Triajana? Berani sekali mereka pergi tanpa alas kaki, dasar orang udik!

“Yah, barangkali...” Indah tersenyum, berusaha mengusir cemooh yang berdengung di otaknya. “Kalau kita terus-terusan memantaskan diri, kita bisa mengubah otak kolot mereka.”

Kunyahan Dirga berhenti sejenak. Lelaki itu mengernyit, berusaha mencerna kalimat gadis berkepang dua yang kini mengetuk pintu pagar, mengucap salam pada penghuni rumah Triajana. Ia ingin bertanya kembali, namun salam Indah telah dibalas. Seorang wanita tua renta keluar dari rumah mewah—nampaknya pembantu keluarga tersebut—dan mempersilakan keduanya masuk.

            Dirga membiarkan Indah berjalan di depannya, berbasa-basi pada pembantu rumah Triajana. Ia meletakkan perhatiannya pada rumah Triajana yang mewah. Dengan segala barang asing yang menyambutnya begitu pintu jati itu terbuka. Bahkan setelah Retno, sang tuan rumah muncul dan menyambut keduanya, matanya tak bisa berhenti mengobservasi seisi ruangan tersebut. Benda apa ini? Benda apa itu? 

Namun, ada satu hal yang memecah konsentrasinya. Yang membuatnya terpaku, tak kunjung melepaskan pandangannya. Bukan, bukan barang yang mengkilap atau besarnya setengah mati.

Hal yang dimaksud Dirga adalah seorang gadis. Ia tengah bersantai di saung luar rumah, membaca buku dengan khidmat. Sesekali ia tersenyum—aduhai, manis sekali senyumnya. Sesekali ia tertawa. Sesekali ia termenung. Entah buku macam apa yang membuat emosinya berganti hanya dalam hitungan detik. Yang jelas, Dirga senang melihatnya.

“Nak Santi yang membantu saya memilihkan barang. Katanya, uang titipan warga kampung terlalu banyak untuk sebuah bendera. Jadi dia membelikan kebutuhan pokok agar warga bisa sekalian berpesta tanggal tujuh belas nanti.”

“Santi?”

Retno tertawa lebar. “Ya ampun, akhirnya berbicara juga temanmu, Indah. Sedari tadi melamun terus. Siapa namamu tadi nak, Dirga?”

Dirga mengangguk kikuk. Wanita yang tak tampak kepanasan meski mengenakan kebaya itu tersenyum anggun sebagai balasan. Jari telunjuknya kemudian mengarah ke luar jendela, menunjuk Santi—gadis yang sedari tadi diperhatikan oleh Dirga. “Tadi sebenarnya sudah saya minta dia untuk ikut duduk, menyambut tamu. Cuma dia ngeyel, mau baca buku. Sampai bosan saya melihat dia baca buku, nak.”  

Seseorang seolah menghujam kepala Dirga dengan palu, semata-mata agar Dirga sadar diri dan sadar posisi. Santi itu anak saudagar, sementara dia hanya anak tukang antar.

 Dia anak siapa-siapa, kamu bukan apa-apa. Dirga, jangan sinting!

Ia pikir, begitu dirinya dan Indah menjejak ke tanah gersang penuh kerikil, sejarahnya bersama Santi telah usai. Ia pikir, ia akan segera melupakan gadis berambut panjang lurus itu.

Tapi sejarahnya belum usai. Semuanya justru dimulai.

Ia kembali menemui Santi di pesta rakyat, tanggal tujuh belas. Mengenakan baju putih bersih, dengan hasduk diikat bak bandana, ia menawarkan diri untuk bernyanyi. Tak hanya Dirga yang terpana, seluruh kampung terbuka mulutnya. Kagum dengan betapa piawainya anak bungsu Triajana itu bernyanyi.

“Kamu yang kemarin ke rumah, kan? Yang sibuk melihat barang-barang di rumah.”

Belum sempat Dirga mengiyakan, tangan kanan Santi telah terulur. Ia memperkenalkan diri untuk kedua kalinya, bilang barangkali Dirga lupa dengan namanya—meskipun yang terjadi justru sebaliknya. Dirga membalas jabat tangannya. Juga membalas senyum manis Santi dengan senyum canggung.

“Aku nggak tahu kalau acara kampung bisa seseru ini. Pesta yang aku datangi, semuanya harus pakai baju formal, menjaga tutur kata. Rasanya seperti patung saja, membosankan. Tapi yang ini...”

Santi menghentikan ucapannya, membiarkan dirinya sejenak hanyut akan euforia hari kemerdekaan. Gadis itu tak jadi melanjutkan kalimatnya. Ia memilih merentangkan tangan, membiarkan seluruh bagian dari tubuhnya merasakan kesenangan warga kampung.  

“Seru, ya?” Santi mengiyakan dengan anggukan semangat. Bahagianya mengalahkan anak kecil yang berlarian dengan bendera kecil di tangan mereka. Bahkan, mengalahkan warga kampung yang baru pertama kali berpesta merayakan kemerdekaan bangsa. “Lebih seru daripada membaca buku. Kalau ada acara kampung seperti ini lagi, boleh aku datang?”

“Yah... kalau kami punya cukup uang untuk mengadakan pesta, tentunya kamu boleh datang.” Dirga membalas seraya merapikan rambut ikalnya.

Pernyataan itu membuat Santi terkesiap. Dilihatnya warga yang kini bersorai, menyemangati lelaki yang ikut lomba panjat pinang. Gadis itu mengernyit, bertanya. “Kalian tidak merayakan kemerdekaan setiap tahun? Bukankah itu kegiatan wajib di tanggal tujuh belas ya?”

Kepala Dirga menggeleng. “Kebetulan saja kemarin uang tabungan kami berlebih. Jadi kami putuskan untuk membeli sesuatu di kota, titip keluarga Triajana.”

Mata berbinar Santi perlahan luruh percikan bahagianya. Ia nampaknya tersadar, di balik senyum bahagia dan teriakan penuh semangat warga, tersimpan kehidupan yang lara. Gadis itu menoleh, menatap lamat Dirga dengan bajunya yang biasa—atau lusuh, kalau ia boleh berkomentar kasar. Kemudian menunduk, melihat pakaiannya yang serba bersih. Yang walaupun mempunyai model sederhana, tetap terlihat mewah di mata warga.

“Seharusnya tidak seperti ini... seharusnya semua orang berhak bahagia, apalagi di hari di mana seluruh warga Indonesia dinyatakan merdeka.”

“Kami ini kaum melarat, Santi,” potong Dirga. Sekali lagi mengingatkan Santi akan realita. “Memangnya apa yang bisa kami lakukan? Kita saja tidak bisa memilih. Ya, yang bisa kami lakukan hanya menerima nasib.”

Siang berganti petang. Petang berganti malam. Setelah seluruh warga kampung masuk ke dalam rumah sederhana mereka, setelah Retno Triajana pulang sendirian ke kediamannya. Santi masih termenung di tengah lapangan. Menatap lamat Sang Saka Merah Putih, sementara kalimat Dirga terbayang di kepalanya.

Bagaimana bisa warga kampung sepasrah itu dalam menjalani kehidupan? Bagaimana bisa bahagia masih mengalir dari rumah ke rumah, sementara hidup mereka jauh dari kata berada? Gadis delapan belas tahun itu bertanya pada sepi.

Pertanyaan itu adalah alasan mengapa ia kembali ke kampung esok harinya, esoknya, dan esoknya lagi. Ia ingin merasakan kehidupan mereka secara nyata, bukan hanya mendengarkan cerita dari mulut masyarakat berdompet tebal.

Pertanyaan itu pula yang membuatnya terus bertemu Dirga. Bertukar pikiran dan cerita pada lelaki kurus tersebut. Mengenalkan lelaki itu pada dunia perkotaan, sementara Dirga mengenalkan gadis berlesung pipi itu pada kehidupan perkampungan.

Beberapa kali, Dirga membawa Santi ke tempatnya bekerja sambilan—pasar tempatnya menjadi kuli angkut. Dari pengalaman itu, Santi sadar akan betapa cekatan dan telitinya lelaki kurus itu.

Di hari libur, Santi kerap datang ke kampung membawa berbagai macam buku. Lewat kunjungan itu, Dirga menyadari betapa hangatnya sifat Santi pada anak-anak. Juga betapa besarnya mimpi yang gadis itu simpan. Mimpi untuk memberikan kesejahteraan pada kaum pinggiran terlupakan sepertinya.  

Tanpa mereka sadari. Pelan namun pasti. Perasaan mereka tumbuh, dari kuncup kecil, hingga mekar tak terkendali. Menciptakan jalinan kuat, antara dua hati.

***

“Entah kenapa aku jadi merasa bersalah, Yah,” terang Dahlia. “Aku membenci tanggal 17 Agustus karena kecelakaan Bunda, padahal di masa lalu, hubungan Ayah dan Bunda bermula di saat itu.”

            Di luar kontrol Dahlia, jemari gadis itu mulai meremas ujung kaus putihnya. Kebiasaannya saat merasa bersalah itu segera dihentikan Dirga—sebelum kaus itu robek karena ulahnya.

“Kamu nggak perlu merasa bersalah. Karena untuk Ayah sendiri, 17 Agustus itu bittersweet. Ada kenangan manis, ada pula kenangan pahit. Hanya saja, kamu harus tahu bahwa kebencianmu tak mengubah apa-apa. Ketimbang benci, kenapa tidak menggunakan energimu untuk mendoakan Bunda?” katanya seraya menggenggam erat tangan sang anak yang rapuh. Tak ada balasan darinya. Namun Dirga yakin, gadis itu tengah memikirkan masak-masak nasihatnya.

Di tengah ruang keluarga yang lengang, Dirga melanjutkan ceritanya.

“Tahun 1976, Kakekmu meninggal. Ayah yang menjadi satu-satunya lelaki di keluarga, harus menjadi tulang punggung. Saat itu, Ayah juga kehilangan pekerjaan sebagai kuli angkut pasar. Karena tidak ada lowongan pekerjaan yang terbuka saat itu, Ayah memutuskan menjadi tukang antar seperti Kakekmu.”

“Ayah masih suka dengan Bunda saat itu?”

 “Tentu saja, Dahlia. Hubungan Ayah dan Bundamu menjadi makin erat malah—walaupun ditentang banyak orang, apalagi saat itu Bunda akan dijodohkan.” Dahlia melotot kaget. Seberani itu Ayahnya untuk melanjutkan hubungan, padahal bisa saja hubungan itu kandas kapanpun.

“Tapi kita akan meninggalkan percintaan Ayah dan Bunda sebentar. Karena ada seorang pelanggan Ayah yang harus kamu tahu. Seorang kakek pendek berkacamata, yang mengajarkan suatu hal penting pada Ayah.”

***

1976.

            Ada satu pelanggan setia Ayah yang tidak boleh kamu lewatkan—bila kamu ingin menjadi tukang antar. Rumahnya ada di samping sawah paling luas di kampung. Ada kandang ayam di sebelah kiri, dan pohon jambu di sebelah kanan. Kalau kamu masih tak yakin, lihat ukiran di pagarnya. Bila matamu melihat pola S dan R, kamu ada di rumah yang tepat, Dirga.

            Tugasmu cukup mudah, Dirga. Setiap hari, datanglah ke pasar tepat pukul enam. Tanyakan pada Bu Jum tentang pesanan untuk Pak Sudiro. Kemudian antar ke rumahnya. Dan tolong, disuruh ataupun tidak, bantu beliau membereskan halaman.

Dirga menatap sekali lagi rumah di pinggir sawah itu, mencocokkan ciri-cirinya dengan surat sang ayah sekali lagi. Ketika keraguan tak lagi menyelimuti dirinya, ia turun dari sepeda. Membawa kantung plastik pesanan Pak Sudiro, dan perlahan membuka pagar dengan pola S dan R itu.

“Permisi, Pak Sudiro!”

Lengang. Hanya ayam jantan yang balas berkokok.

Baiklah, gumam Dirga. Ketimbang ia menghabiskan waktu untuk berteriak memanggil Sudiro, lebih baik ia lekas membersihkan halaman pria itu. Matahari sudah melambaikan tangan di timur sana. Bila ia tak cepat, bisa-bisa pelanggan lain tak akan sempat dilayani.

Setelah meletakkan pesanan Sudiro, ia mulai melaksanakan amanat ayahnya. Diambilnya sapu lidi yang tergantung di belakang kandang ayam, dan mulailah lelaki itu menyapu halaman. Tak hanya sekali kaki tanpa alasnya tergores ranting dan kerikil. Tak hanya sekali pula ia mengaduh karena punggungnya lelah membungkuk—ia juga mencabut rumput liar yang tumbuh, meski bapaknya tak menyuruh.

“Bapak setiap hari harus bekerja sekeras ini?” tanyanya pada diri sendiri.

Tanpa ia sadari, seorang pria tua renta tengah mengamati pekerjaannya dari balik tirai. Ditatapnya lamat-lamat Dirga. Kemudian dilihatnya halaman rumah yang bersih tanpa dedaunan yang rontok, tidak pula dihiasi dengan rumput liar.

Pria tua itu, Sudiro, baru menampakkan diri saat langit berubah warnanya. Saat biru telah menggantikan jingga, saat kaus kebesaran Dirga basah akan keringat, ia keluar dari rumahnya. Sudiro lantas melambaikan tangannya, memberi kode agar Dirga berhenti bekerja dan berjalan mendekatinya.

“Sudah saya bersihkan semua, Pak Sudiro. Kalau misalnya ada yang kurang, tak usah sungkan untuk bilang.” Dirga melapor pada tuan rumah. “Bagaimana Pak Sudiro? Apa kerja saya memuaskan?”

Sudiro menganggukkan kepala takzim. Tak ada komentar apa-apa—Dirga menyimpulkan lelaki ini memang irit bicara. Begitu uang diterima di tangan, Dirga membungkuk berterima kasih. Cepat-cepat dirinya berlari keluar. Mengayuh sepedanya agar segera sampai di kantor agen pengiriman.

Begitulah. Sejak hari itu, ritme hidupnya berubah total. Rutinitasnya bermula pada pukul empat dan berakhir di pukul delapan malam. Ia bekerja lebih keras dari siapapun, bahkan mungkin keluarga Triajana kalah sibuk dengan dirinya.

Tak terasa, setahun berlalu semenjak meningalnya bapak Dirga. Perlahan kehidupan keluarga Dirga berubah. Berjalan tanpa alas kaki sudah menjadi kisah lama. Sarapan mereka naik tingkat, tak hanya kentang rebus yang mereka konsumsi sehari-hari. Meskipun hidup mereka masih jauh dari kata berada, hal itu sudah membuktikan betapa kerasnya Dirga bekerja untuk keluarga.

Hanya saja, kesibukannya mencari nafkah untuk keluarga tak mengubah pandangan keluarga Triajana padanya. Sudah beribu kali Santi menjelaskan, bahwa lelaki yang ia suka adalah sosok pekerja keras.

“Berikan ia waktu untuk belajar, lantas suruh ia bekerja di salah satu usaha kita. Kujamin, usaha itu akan berkembang berkatnya.” Begitu kata Santi pada keluarganya. “Percaya denganku, Ibu, Bapak.”

Hasilnya? Tak ada.

Keluarga Triajana masih berpegang teguh pada pendiriannya. Mereka justru menekan Santi agar segera memutuskan hubungannya dengan Dirga. Bila sudah seperti itu, Santi akan bangkit dari meja makan. Membenamkan diri dengan cerita, sementara pipinya basah akan air mata.

Permasalahan keluarga Triajana bak gunung aktif yang akan meletus kapan saja. Rumor disebarkan dari mulut ke mulut, menyentuh berbagai lapisan masyarakat di daerah tersebut. Masyarakat kalangan atas tak hanya menjadikan warga kampung sebagai korban mulut pedasnya. Tak ada hari di mana Santi tak mendengar bisik-bisik sinis padanya—menyebabkan dirinya mengurung diri di dalam rumah.

Bulan Juli 1977, gunung api itu akhirnya meletus. Tanpa seizin Santi, Retno benar-benar menjodohkan Santi dengan pejabat pulau seberang. Santi berang. Dirga bingung bukan kepalang. Ia tentu ingin menikahi pujaan hati. Ia tak rela membiarkan Santi dibawa pergi.

Tapi dengan kondisinya, apakah ia punya pilihan?

***

            “Nak Dirga, coba ke sini sebentar.”

            Tangan Dirga berhenti mengambil jambu yang berjatuhan. Ia menoleh, memastikan Sudiro adalah orang yang mengajaknya berbincang—bukan anak-anak ayam yang baru lahir seminggu lalu. “Bapak memanggil saya?”

            “Tentu saja memanggilmu, Dirga. Ada yang mau Bapak bicarakan denganmu.” Sudiro sekali lagi meminta Dirga untuk mendekat. Tangan keriputnya menepuk kursi di sampingnya. Begitu Dirga duduk, ia menyodorkan secangkir teh hangat untuk tukang antarnya.

“Bapak sudah dengar banyak hal tentangmu dan si bungsu Triajana.”

            Urung Dirga menyesap teh hangat nan nikmat tersebut. Ia justru menunduk, menatap ubin teras yang belum sempat ia sapu. “Lebih baik tidak usah dibahas, Pak Sudiro. Toh, saya sudah tidak bisa apa-apa lagi.”

           Alis tebal Sudiro terangkat. Kentara sekali ia tak menyukai sikap patah semangat lelaki muda itu. “Dirga, selama hidung pesekmu masih bisa bernapas. Selama tangan kurusmu masih sanggup digerakkan. Sementara badan tinggimu masih berfungsi normal. Pasti selalu ada jalan. Kamu sudah sejauh ini dengan Santi, jangan tiba-tiba berhenti.”

            “Justru karena sudah jauh, Pak Sudiro,” potong Dirga. “Justru karena sudah jauh, saya berhenti. Saya tidak ingin menggantungkan Santi lebih lama.”

            “Sejujurnya yang membuatmu ragu itu apa?”

            Pertanyaan itu menghujam tepat di jantung Dirga. Lelaki 22 tahun itu mendapati dirinya sendiri terbata-bata, mencari kata yang tepat untuk menggambarkan ragunya. Sebelum makin banyak kata meluncur dari mulutnya, Sudiro menyodorkan cangkir teh sekali lagi. Dirga segera meneguknya hingga habis—nyaris saja ia tersedak bila Sudiro tak menepuk punggungnya.

            Begitu hatinya tenang, Dirga mulai mengutarakan apa yang selama ini ia pendam sendiri. “Sedari dulu aku ragu tentang kelanjutan hubungan ini, Pak. Aku—” Sudiro mengangguk. Dalam diamnya, pria itu memberikan dorongan agar Dirga terus bercerita.

“Aku takut tak akan pernah bisa dianggap pantas oleh mereka. Bagaimanapun, statusku dan Santi akan selalu berbeda, sekeras apapun aku bekerja. Bagaimana bisa, Pak. Bagaimana bisa anak sepertiku diterima?”

“Tapi Santi mencintaimu, nak. Itu sudah cukup.”

Ganti Dirga yang tak setuju dengan ucapan lawan bicaranya. “Cinta tidak bisa menutup jurang pemisah kami, Pak.”

            Dirga pikir, Sudiro akan memberikannya sebuah kata-kata mutiara. Semata-mata untuk menenangkan pikirannya yang kalut. Namun ia salah besar, lelaki itu justru terlihat jengkel dan kecewa. Decakan bahkan keluar dari mulutnya. “Bagaimana bisa bangsa ini merdeka, kalau nasib rakyatnya saja begini.”

            “Ini sudah takdir kami, Pak. Kami tidak punya—”

       “Berhenti mengatakan kamu tidak punya pilihan, Dirga! Kamu selalu punya pilihan. Hanya karena kamu miskin, melarat, orang kampung, bukan berarti kamu tak punya pilihan!”

Dirga terdiam. Bukan hanya suara tinggi Sudiro yang membungkamnya, melainkan karena kebenaran pada kalimat itu. Badannya bergetar, patah-patah ia bertanya. “Lantas, yang saya harus lakukan sekarang apa, Pak...”

“Ambil merdekamu, nak. Itu yang harus kamu lakukan,” perintah Sudiro tegas.

“Terlepas dari statusmu dan Santi, kalian berdua adalah manusia yang merdeka. Selama kalian tak melakukan hal yang menyimpang, kalian berhak melakukan dan mendapatkan apa yang kalian inginkan. Dalam kasus ini, satu sama lain. Itu yang kalian inginkan, bukan?”

“Pak Sudiro...” Dirga tercekat. Air mata mulai membasahi pipinya.

“Kalau saja golongan muda punya mentalitas sepertimu, berkata mereka tak punya pilihan hanya karena mereka berbeda. Mungkin sekarang, merdeka negara ini tak benar-benar dari perjuangan kami sendiri...”

Ada nada kesedihan yang Dirga tangkap dari kalimat Sudiro. Pria tua itu bahkan memalingkan muka sejenak, menarik napas untuk menenangkan dirinya yang emosional. “Pasang telingamu baik-baik, Dirga. Ada sesuatu yang ingin aku ucapkan untukmu.”

Dirga mengangguk—meski Sudiro tak bisa melihat anggukannya.

“Bukan hanya Indonesia yang berhak merdeka. Kamu, berhak merdeka di dunia nyata.”

Sudiro kini tak lagi berpaling. Dengan mata sembap, digenggamnya erat tangan Dirga. “Kau tak perlu melakukan hal-hal semacam Rengasdengklok untuk mendapat restu keluarga Santi. Kau cukup membawa hati dan kesungguhanmu, nak. Ingat itu. Sekarang, kau pergi ke rumah keluarga Triajana. Kejar Santi, kejar merdekamu.”

Sedetik setelah Dirga mengucapkan terima kasih, lelaki itu telah melesat menuju luar pagar. Dikayuhnya sepeda menuju rumahnya—kecepatannya seperti orang kesetanan. Ia berteriak di tengah perjalanan sebagai penyemangat. Biarlah pejalan kaki menganggapnya orang gila. Ia hanya melakukan apa yang harus ia lakukan.

Mengejar merdekanya.

***

Kabar bahwa keluarga Dirga melamar Sinta menyebar cepat, secepat sepeda yang dikayuh Dirga pada pagi hari. Tak hanya rumah kayu keluarga Triajana yang dipenuhi orang. Bahkan di luar pagar, baik masyarakat kalangan atas dan warga kampung membaur menjadi satu. Semuanya ingin tahu apa yang terjadi di dalam sana.

Sementara itu, Santi menahan dirinya untuk tak menangis kencang saat Dirga masuk ke dalam rumahnya, menyampaikan maksudnya datang. Berkali-kali ia berdoa agar lunak hati orang tuanya. Fokus matanya hanya Dirga, Dirga, dan Dirga.

“Nak, kata-katamu soal mengejar kemerdekaan itu, jujur aku sangat terkesan. Kalau aku tak tahu asal-usulmu, mungkin aku berpikir kau anak kaum terpelajar,” puji Retno sungguh-sungguh. Sinta berteriak lega dalam hati, namun kembali meremas ujung baju panik saat Retno lanjut berbicara.

“Hanya saja nak, anakku Santi tak bisa makan hanya dengan kata-katamu. Ia terbiasa hidup berada. Kalau kau berasal dari keluarga sederhana, kami mungkin tak masalah. Hanya saja—”

“Hanya saja Dirga berhak untuk mendapatkan Santi. Karena keduanya saling mencintai.” Suara berwibawa yang familiar itu memotong kalimat Retno. Dirga nyaris saja meloncat dari tempat duduk bila ia tak sadar tempat. Itu Sudiro! Berdiri di depan pintu, dengan kemeja batik tulis dan celana hitam—terlihat jauh lebih berwibawa ketimbang ia di rumah.

Ia baru saja akan menyapa pelanggannya itu, tapi betapa kagetnya ia saat Retno dan Cipta, kepala rumah tangga keluarga Triajana, bangkit lebih dahulu. “Ya ampun, Pak Sudiro. Kenapa tiba-tiba berkunjung? Apa anda tidak sibuk di kantor walikota?”

Begitu kalimat itu meluncur dari mulut Cipta, seseorang seolah memukul kepalanya dengan palu. Kumpulan peristiwa setahun terakhir, di mana ia mengantar pesanan dan membersihkan halaman Sudiro berputar kembali. “Ini bukan mimpi?” bisiknya pada diri sendiri.

Sudiro tersenyum tipis pada Dirga, meyakinkan lelaki itu bahwa semuanya nyata.

“Setahun terakhir ini, Dirga bekerja sebagai tukang antar pesananku. Aku melihat bagaimana lelaki ini bekerja membersihkan halamanku sebelum mengantar pesanan orang lain. Hanya untuk menjalankan amanat almarhum Ayahnya, yang sebenarnya bisa tak dipedulikan.”

Seraya berjalan menghampiri Dirga, Sudiro melanjutkan kalimatnya. “Aku yang memintanya untuk pergi ke rumahmu, Cipta. Karena aku tahu seberapa berkualitasnya pemuda ini. Dan seberapa pantasnya pemuda itu untuk anak bungsumu.”

Santi tersipu. Gadis itu mengangguk sopan, berterima kasih pada Sudiro.

Cipta mengusap kepala was-was. Dengan orang penting di belakang pelamar anaknya, tentu ia segan untuk menolak. Diliriknya kembali Santi yang sudah mencuri pandang pada Dirga. Sepasang insan itu jelas mengingatkannya dengan Retno di masa muda. Tapi untuk melepaskan Santi dengan pemuda miskin? Ia tak tega.

“Aku bisa saja menerimamu, Dirga. Tapi kamu masih belum menjawab pertanyaan istriku. Dengan apa kamu akan memberinya makan, juga tempat tinggal yang layak?”

“Aku akan menyiapkannya rumah, Cipta. Juga pekerjaan. Demi kebaikan hatinya, juga kebaikan hati Ahmad, Bapaknya.”

Seisi rumah menatap Sudiro tak percaya. Tapi walikota itu tak memiliki tanda-tanda untuk menarik perkataannya. Dengan yakin, ia menepuk punggung Dirga layaknya anak sendiri. “Percayalah padaku, Cipta. Anak ini yang terbaik.”

Dengan diucapkannya kalimat itu, hilanglah segala resah yang hinggap pada orang di dalam rumah tersebut. Cipta dan Retno saling lirik, kemudian menatap anak bungsu dan kekasihnya bergantian. “Baiklah, akan kami restui.”

Ucapan syukur memenuhi ruangan tersebut. Suara Dirga dan Santi mendominasi. Keduanya saling lirik, lantas pecahlah tawa keduanya tanpa sadar. Tawa dua insan yang saling mencinta. Tawa dua insan yang merdeka.

Comments

Popular posts from this blog

Cerbung: Rollercoaster (1)

Cerpen: Sederhana

Benak: Rinduku pada Balkon Sekolah