Menari di bawah Bulan Perbani

Yang terdengar hanya suara burung hantu dan kepakan sayap kelelawar. Tikus gendut mencicit, bersembunyi di balik semak-semak. Ada pula yang bersembunyi, berjinjit di jalan penuh batu. Dua anak perempuan. Yang satu bergaun hijau mint. Yang lain bergaun kuning.

Keduanya berjalan tanpa alas kaki. Mulai berlari kecil saat lentera desa tak lagi menyinari. Tujuan mereka jelas, kastil di atas bukit. Mereka ingin menari di bawah bulan perbani. Seperti nenek moyang, seperti dongeng yang dibacakan ibu, dulu sekali.

Mereka mengumpulkan bunga di perjalanan. Bunga putih untuk gadis bergaun kuning. Bunga ungu untuk gadis bergaun hijau. Di kastil yang berdiri gagah, keduanya merangkai mahkota bunga. Memakainya di kepala. Dan menarilah mereka, bagaikan kupu-kupu di taman bunga.

Tarian mereka hanyalah putaran sederhana. Sesekali bertabrakan, sesekali tertawa. Saat lelah menguasai, badan mereka telentang menyentuh rumput basah. Menarik napas panjang. Bersitatap dengan bulan perbani. Berbagi cerita dengan pohon, galaksi, juga kawan di sisi.

Nada-nada asing dilantunkan, kaki tanpa alas menaiki tangga spiral. Mereka ingin menyaksikan bulan perbani lebih dekat. Juga bintang di langit gelap. Dan burung yang tertidur di sarangnya. Meninggali menara kastil, setelah penghuninya telah lama mati.

Angin berkesiur. Ranting berjatuhan. Dan hutan di dekat kastil, tiba-tiba menyala terang.

Terbelalak. Kaget. Tak percaya. Pepohonan itu mengeluarkan cahaya hijau. Kuning menyusul. Kemudian biru, dan kembali lagi ke hijau. Seolah jutaan lentera desa dinyalakan di sana. Seolah kedua gadis itu tengah terseret ke galaksi lainnya. Fenomena apa ini? Apa yang tengah terjadi?

Dua menit. Cahaya pepohonan meredup setelahnya. Meninggalkan bulan perbani dan kedua gadis yang mengerjapkan mata berkali-kali. Kepala mereka berputar. Memikirkan berbagai kemungkinan, sejumlah alasan. Penjelasan. Namun tak juga ditemukan.

Sampai yang bergaun kuning teringat akan bait dari dongeng pengantar tidurnya.

Datanglah, berdansalah saat bulan perbani.

Ditemani angin malam dan burung hantu.

Nikmatilah waktu itu,  jangan terburu-buru.

Cahaya terang akan menyinari, bila kau bertahan sebentar lagi.  


Comments

Popular posts from this blog

Cerbung: Rollercoaster (1)

Cerpen: Sederhana

Benak: Rinduku pada Balkon Sekolah