Natasya: Surat untuk Juragan


Cerita ini menceritakan tentang keseharian Natasya dari novel Amaryllis, novel pertama Ashfalia Pramudya. Novel ini bisa didapatkan Shopee (Kyoona) dan Tokopedia (Kyoona Gallery). Ke depannya, Ashfalia Pramudya akan menuliskan cerita-cerita lain dari dunia Amaryllis di blog Imaji Ashfalia. 

   ***

Natasya memutuskan menghabiskan Minggu pagi di taman belakang akademi. Memberikan matanya waktu istirahat dari buku paket dan pekerjaan rumah. Ia bahkan tak membawa novel yang dipinjam di perpustakaan—saking lelahnya ia terhadap tulisan.

“Kita tunggu hasilnya, ya!”

Suara Queen menggema di kepalanya. Ketua kamarnya itu tengah memberikan tugas dadakan. Katanya, “Tuliskan pengalaman yang kamu suka dengan masing-masing anak kamar 140. Bisa pengalaman paling menyenangkan, aneh, buat sedih. Pokok yang kamu suka.”

Tugas itulah yang membuatnya membawa buku harian dan pena hitam. Namun, sudah dua puluh menit ia duduk di rerumputan. Masih tak ada pengalaman yang muncul di kepalanya. Memberikannya ilham untuk menulis. Bukan karena tak ada pengalaman yang ia suka. Tapi terlalu banyak hal yang ia sukai—Natasya tak tahu yang mana yang harus dipilih.

Halaman kosong harian tertiup angin, seolah mengingatkan Natasya. Ayo cepat ditulis!

Perutnya berbunyi, ikut mengingatkan dia. Ayo cepat makan!

Dengan pipi semerah tomat dan tawa tertahan dari siswi di sekitarnya, Natasya mengambil keripik kentang dari dalam tasnya. Varian rumput laut kesukaannya. Senyum terbit di dirinya tanpa disadari. Kalau melihat keripik kentang, Renata langsung muncul di kepalanya. Ketua OSIS itu gila keripik kentang. Masih segar di kepalanya, betapa bangganya Renata saat memamerkan kompartemen khusus untuk keripik berbagai rasa. Lagaknya mirip juragan keripik, canda anak-anak. Entah bagaimana suaranya masih jernih, tak pernah batuk dan serak.  

Memori lain berputar. Malam hari, di minggu ketiganya bersekolah di Amaryllis Academy. Natasya terjaga, di saat kawan sekamarnya berlayar ke pulau mimpi. Hatinya diselimuti rasa rindu. Kehidupan di akademi memang menyenangkan. Kawan baru yang hangat, guru yang jauh dari kata membosankan, perpustakaan yang besar. Tapi bohong kalau ia tak rindu rumah. Rindu celoteh Bunda di ruang keluarga, sementara Natasya dan Sandra mengerjakan pekerjaan rumah. Rindu jajanan yang dibawakan Ayah tengah malam. Rindu Sandra, tingkah isengnya, celetukannya, dan gaya manja memelasnya.

Di ranjang empuknya, Natasya terisak pelan.

Dan dari ranjang lain, seseorang terbangun. Menoleh ke arah Natasya dan lekas bangkit dari kasurnya. Seseorang itu Renata. Rambutnya berantakan, matanya berat terbuka. Tapi bibirnya menyunggingkan senyum. Tangannya mengelus pelan rambut Natasya. “Kangen rumah, ya?”

Malu, Natasya mengangguk. “Kupikir aku nggak bakal kangen.”

“Wajar kok, Natasya. Aku dulu juga begitu.” Renata menenangkan. “Apalagi kamu juga menikmati kan, sekolah di sini? Rasanya mungkin aneh. Tapi itu wajar, Nat. Kalau kamu pindah ke suatu tempat, meninggalkan kebiasaan lama yang kamu lakukan bertahun-tahun, pasti akan kangen.”

Pelan, Natasya bangkit dari posisinya. Seraya bersandar di pada headboard kasur, ia berkata. “Jujur, aku malu menangis di depan anak-anak. Apalagi aku sudah kelas sepuluh.”

“Hei, menangis sah-sah saja dilakukan manusia segala umur,” sahut Renata.

 Natasya mengusap air matanya. “Yah, aku rasa aku harus jadi lebih dewasa—”

“Hush,” potong Renata. “Menangis itu bukan sesuatu yang lemah, kekanak-kanakan. Menangis itu reaksi normal, supaya beban yang ada di kepalamu itu lepas semua. Supaya kamu bisa merasa lebih lega setelahnya.”

Mata Natasya mengerjap, melihat Renata yang menatapnya. Tatapan gadis kelas sebelas itu mengingatkannya pada Bunda saat berdiskusi. Serius, dengan kehangatan tersirat di kedua mata.

Entah apa yang merasukinya untuk mendekati Renata. Memeluk gadis berkaus kuning itu erat. Natasya butuh tiga detik untuk memproses tindakannya. Dan segala pikiran negatif memenuhi kepalanya. Bagaimana kalau aku membuat canggung suasana? Bagaimana kalau ia tak suka dipeluk? Bagaimana kalau ia hanya menenangkanku agar ia bisa tidur lagi? Bagaimana—

Segala kalimat negatif itu ditelan lubang hitam saat Renata balas memeluknya. Erat.

“Aku nggak pernah memeluk orang lain selain keluargaku,” Natasya mengaku.

Tawa kecil terdengar dari mulut Renata. “You can always hug me.”

“Nggak apa, kah?”

Natasya dapat merasakan anggukan Renata. “Dulu waktu aku dan Queen pertama masuk akademi, aku sering menangis tengah malam seperti ini. Queen tak sengaja melihatku. Dan tahu apa yang dia lakukan? Dia langsung inisiatif memelukku. Aku nggak meminta, tapi rasanya hangat sekali waktu diberikan. Sampai sekarang kalau aku capek urusan OSIS, aku bisa datang ke dia dan menangis.”

Mata Natasya melirik ke Queen yang tertidur pulas. Ketua kamarnya seperti itu?

“Memang susah dipercaya, ya. Anak semacam dia,” ucap Renata setengah bercanda. “Apalagi waktu itu kita sama-sama anak kecil yang jauh dari rumah. Tapi karena pelukannya itu, aku jadi tergerak melakukan hal yang sama ke kamu. Aku tahu rasanya kangen rumah, aku tahu rasanya menangis sendirian. Dan aku tahu enaknya punya teman bicara, saat sedang ada di bawah.”

Pelukan itu terlepas. “Sudah lebih tenang?” tanya Renata lembut.

Natasya mengiyakan. “Terima kasih.”

“Sama-sama.”

Keduanya saling bertukar senyum, kembali ke kasur masing-masing. Pipi Natasya masih basah, matanya masih memerah. Tapi ia mengingat dirinya tersenyum tipis sebelum terlelap, berlayar menuju pulau mimpi di jam dua pagi.

Saat jarum jam menunjukkan pukul setengah tujuh, Natasya buru-buru menghabiskan makanannya. Ia harus kembali ke kamar 140. Seharusnya ia bisa langsung ke akademi setelah sarapan. Kalau saja buku catatannya tak tertinggal. “Aku pergi dulu, Poppy. Nanti ketemuan di kelas, ya.”

Jempol Poppy terangkat. “Jangan tidur lagi lho, Natasya.”

Natasya tertawa, menggeleng. Dirinya berjalan cepat menuju area asrama yang sepi, kebanyakan anak sudah di akademi atau melahap sarapan di kantin. Buru-buru melepaskan sepatu, tangannya membuka kunci kamar dan mendorong pintu. Meja belajarnya langsung ia hampiri. Cepat mengambil buku catatannya. Ia baru saja akan meninggalkan kamar saat mendapati sesuatu di kasurnya.

Keripik kentang rumput laut dan sepucuk surat. Renata.

Bel istirahat berbunyi. Kelas sepi dan sunyi. Setelah menolak ajakan Poppy ke kantin bersama, Natasya mengambil keripik kentang dari dalam tasnya. Juga surat yang ia bawa. Ia tak peduli cacing di perutnya berteriak kelaparan. Jemarinya pelan merobek amplop, membaca surat tersebut.

Dear Natasya.

Kamu dan entah berapa orang lainnya tahu seberapa sukanya aku dengan keripik kentang. Keripik kentang itu penting untuk kelangsungan hidup. Makanya kadang aku suka pelit. Tapi khusus saat ini, kamu berhak menerima keripik kentang. Anggap saja ini caraku bilang, kamu boleh cerita ke aku kapan saja. Kamu boleh menangis di depanku dan anak-anak lain. Kamu boleh bilang apa saja yang kamu khawatirkan. Aku dan anak-anak 140 akan berusaha membantu. Jangan merasa malu atau sungkan. Anak-anak 140 juga masih menangis, khawatir, kangen rumah. Kamu nggak sendirian di sini. Keripiknya dimakan ya, tapi jangan bilang kalau itu dari aku. Nanti simpananku di rak raib.

Juragan Keripik.

Teriakan riuh dari anak-anak yang bermain bulutangkis membangunkan Natasya dari lamunannya. Teriakan itu juga membuatnya tersadar, air mata perlahan membasahi pipinya. Seperti malam itu. Hanya isi kepalanya saja yang membedakan. Bukan keluarga yang terikat oleh darah, tapi keluarga yang ia temukan di tempatnya bersekolah.

Lampu seolah menyala di kepalanya.

Natasya tahu pasti cara menjawab tantangan Queen.

***

Tiga hari setelahnya, sebuah kotak berwarna kuning diletakkan di depan pintu kamar 140. Nama Renata tertulis di atasnya. Dan Renata baru menemukannya sore hari, pulang dari akademi. Kotak kuning itu sukses menciptakan kernyitan di wajahnya. “Perasaan aku nggak pesan apa-apa ke orang rumah, deh, Queen,” ucap Renata.

Queen menyeletuk asal. “Barangkali isinya bom kali.”

“Hush, aneh-aneh omonganmu. Nanti kalau ada bom beneran, gimana?”

Queen mengangkat bahu. “Tapi harusnya dari orang di Amaryllis, sih. Kotak kuningnya kelihatan beli di koperasi. Pitanya juga dari koperasi.”

Renata mengangguk-angguk setuju. “Masuk akal. Pintar ya, kamu.”

Queen mendengus mendengar ucapan sarkas kawannya. “Mentang-mentang nilai kimianya paling tinggi terus, sombongnya minta ampun ini anak. Udah, cepat buka deh. Nggak usah masuk kamar dulu.”

Renata menarik tutup kotak—dalam hati berdoa isinya bukan bom seperti candaan Queen.

Saat isinya nampak, kernyitan tak hilang dari wajahnya.

Terdapat empat klip penutup makanan—yang biasa digunakan untuk menjepit kemasan makanan. Warnanya kuning dan pink, dengan motif bunga putih pada klipnya. Empat klip tersebut diletakkan di sebelah gelas putih bergambar rubah jingga. Lucu, Renata akui. Tapi siapa pengirimnya?

Jawaban itu langsung ia dapatkan setelah mengambil amplop di dasar kotak. Untuk menjawab tantangan Queen, juga membalas kebaikan Juragan Keripik. Semoga setelah ini, Juragan Keripik tidak ribut mencari karet gelang untuk mengikat keripik dan tidak lupa minum air putih setelah makan. Suratnya jangan lupa dibaca, ya :)

Renata tertawa kecil. “Anak baru satu ini, tahu saja cara membuatku senang.”  

Comments

Popular posts from this blog

Cerbung: Rollercoaster (1)

Cerpen: Sederhana

Benak: Rinduku pada Balkon Sekolah