siang ini berbeda, mengapa?
Keluargaku tak menyukai siang hari.
Saat matahari terang di atas kepala, mereka memilih untuk menyibukkan diri di
ruangan masing-masing. Ibuku memilih duduk di kursi goyang dengan tirai
tertutup, kakakku mencari kegiatan di ruang bawah tanah. Sementara Ayahku entah
di mana. Sudah bertahun-tahun semenjak ia pergi dari rumah ini. Ibuku tak
pernah suka membahasnya.
Tapi tidak denganku, aku
menyukainya. Siang lebih baik dari malam.
Meskipun seringkali siang hari
membuat kepalaku pusing, di saat itulah aku mendapatkan hiburanku. Hiburan yang
kumaksud di sini adalah sekelompok anak yang bermain di taman dekat rumahku.
Mereka mengenakan baju yang sama. Yang lelaki mengenakan celana biru muda,
rompi kotak-kotak biru muda, dan kemeja putih. Yang perempuan mengenakan
padanan sama, yang membedakan hanyalah mereka memakai rok selutut.
Kerap kali mereka membawa makanan di
dalam plastik. Sembari bermain, mulut mereka menggigit kecil makanan di
dalamnya. Hati-hati sekali mereka makan. Sebab takut makanan itu jatuh,
bercampur dengan tanah dan jejak sepatu. Aku sering mendengar tangisan bila
makanan mereka jatuh. Juga bila diri mereka sendiri jatuh saat bermain.
Terlepas dari tangisan yang bisa
berlangsung hingga bel kencang berbunyi, aku menikmati melihat mereka. Karena
yang mendominasi adalah tawa dan percakapan bernada tinggi, melengking suara
mereka. Semangat sekali menceritakan tentang kegiatan di kelas atau hal yang
mereka lakukan di rumah. Atau saat mereka berpura-pura menjadi putri, juga
perompak jahat dari Laut Timur. Kreatif sekali mereka merangkai cerita. Aku
seringkali membayangkan, apa peranku bila aku masuk ke dalam drama mereka.
Penyihir, pesulap handal, atau ibu peri?
Nyaris setiap hari aku bersembunyi,
melihat mereka bersenang-senang dari halaman rumahku. Ingin sekali aku
bergabung. Namun setiap kali inginku kuutarakan, baik Ibu dan kakakku menggelengkan
kepala. “Tidak boleh, di luar terlalu berbahaya.”
Biasanya aku hanya tersenyum tipis
dan terpaksa menganggukkan kepala. Kembali ke kamarku, membayangkan asyiknya
bermain bersama mereka. Namun malam ini, aku lelah sekali tak berbuat apa-apa. Aku
lelah hanya mengangguk dan pasrah menerima keadaan. Ayahku sering berkata,
“Kamu harus berani mengambil resiko!”
Aku tahu kamu tak seharusnya
menganggap serius pesan seseorang yang pulang dalam keadaan mabuk. Hanya saja,
kalimat yang keluar dari mulut berbau alkoholnya nampak sesuai dengan
situasiku. Aku tersenyum girang, tak sabar menunggu rembulan digantikan
mentari.
Dan tibalah saat itu. Bel berbunyi
kencang, diikuti dengan teriakan anak yang berlari terburu ke area taman. Kudengar
salah satu dari mereka tengah memamerkan bola yang mereka miliki. Yang lainnya
menyirami sang pemilik bola dengan pujian dan decakan kagum. Semangat mereka
mengajak semua anak di taman untuk bermain bola.
Ini saatnya!
Perlahan, aku menapakkan kaki ke
arah taman penuh pengunjung. Suara yang selama ini kudengarkan dari sisi lain,
perlahan masuk ke dalam gendang telingaku. Keceriaannya, antusiasmenya. Mataku
tak bisa berhenti menyapukan pandangan, badanku tak bisa berhenti bergerak dan
mengunjungi setiap sudut taman. Beginilah kehidupan seharusnya terasa! Penuh
dengan tawa dan percakapan seru. Penuh dengan interaksi, terkadang tangis dan
teriak ketakutan, dan petualangan—meskipun itu petualangan fiksi sekalipun.
Bukan mata sayu yang dimiliki Ibuku, maupun kulit pucat yang dimiliki kakakku.
Untuk pertama kali setelah sekian
lama, aku melepaskan tawa. Menertawai anak yang berebut bola. Menertawai
seseorang yang sausnya mengenai muka. Menertawai Ibu dan kakakku yang selama
ini menghalangiku. Tanpa larangan mereka, seharusnya aku bisa merasakan
kehangatan sedari lama. Bukannya atmosfer dingin rumahku yang tetap terasa di
puncak musim panas.
“Awas!”
Aku menengadah, melihat bola
berwarna jingga terbang ke arahku. Cepat sekali bola itu bergerak. Aku
tersenyum lebar. Sedari tadi aku melihat anak lain menangkap bola itu dan
melemparkannya ke anak lain. Ini kesempatanku untuk berbaur, mereka harus
melihat kemampuanku!
Aku sedikit berlari ke belakang.
Tanganku kujulurkan. Bersiap menangkap.
Bola itu memang mengenaiku. Namun
tanganku tak bisa menangkapnya.
Aku mengaduh, sepertinya memang aku
kurang cakap. Buru-buru, aku menggelengkan kepala. Bukan waktunya mengeluh
karena ketidakmampuanku. Aku harus cepat mengejar bolanya sebelum ditangkap
anak lain. Sekuat tenaga aku berlari. Berusaha mencegah bola yang masih terus
menggelinding. Kena kau! Teriakku saat aku berhasil berhenti di
depannya.
Aku menunduk untuk mengambilnya. Tapi
bukannya bola itu berhasil kuangkat, seseorang berlari dari belakang dan
mengambil bola itu dari tanganku. Aku menggerutu, lagi-lagi upayaku gagal.
Kulemparkan pandangan kesal kepadanya, anak lelaki yang seenaknya mengambil
bola. Padahal aku lebih dahulu di depan bola itu. Memang susah ya, mengalah
sebentar?
Kesal, aku berteriak padanya. “Hei!
Mainnya gantian!”
Sombong sekali anak itu. Bukannya
minta maaf, ia malah melemparkan bola itu ke anak lain. Lanjut bermain dan
tidak memedulikan teriakanku. Aku menggerutu, kali ini lebih terdengar seperti
geraman ketimbang gerutu. Aku kepayahan mengejarnya dari belakang—dalam hati
mengomel mengapa aku mengenakan gaun putih ke taman bermain. Mana anak itu
berlari cepat sekali. Gesit berpindah kesana kemari, menangkap dan melempar.
Harus kuakui ia jago. Tapi bukan berarti dia bisa seenaknya, bukan?
Syukurlah ia berhenti. Nampaknya ia
juga kelelahan sepertiku. Anak itu pergi ke kursi taman terdekat. Duduk dan
bersandar, mengusap peluh di dahinya. Aku mengikuti tingkah lakunya. Pikirku,
bila aku duduk di sebelahnya, seharusnya ia akan mendengar ucapanku, bukan?
“Hei, kamu tadi mainnya keren. Tapi
kamu juga main curang.”
Anak itu tak bergeming. Ia malah
mengeluarkan makanan di dalam plastik dari dalam sakunya, mengunyah santai
seolah ia tak mendengar apa-apa. Cukup sudah, kesabaranku dibuat habis dengan
tingkahnya. Tadi ia bisa beralasan tidak dengar karena taman bermain ramai.
Tapi di sini, di sudut taman yang sepi, dan ia tak mendengarku sama sekali?
Keterlaluan!
“Kamu ini memang sengaja nggak mau
mendengarkanku, ya? Dasar menyebalkan!”
Marah, aku menarik makanan dari
tangan kecilnya. Benar saja, ia berteriak kencang! Tentu saja dia tak bisa
lama-lama bersandiwara seolah aku tak di sampingnya. Aku tersenyum puas.
Memikirkan hal apa lagi yang bisa membuatnya sadar akan kehadiranku. Oh, haruskah
kutarik lengan bajunya kencang-kencang?
Jemariku melaksanakan apa yang otakku
perintahkan. Dan ia menjerit lagi.
“Makanya, dengarkan kalau ada orang
lain berbicara. Sekarang lihat aku!”
Ia menoleh. Dan aku melemparkan
senyum terbaikku. “Nah begini dong! Kalau misalnya dari tadi kamu menyahut,
pasti kita sudah bisa bermain bola bersama, kan? Aku tidak perlu berbuat kasar
kepadamu supaya kamu sadar.”
Kupikir ia akan menunduk malu dan
meminta maaf. Kupikir ia akan tertawa kecil dan mengajakku bermain bersamanya.
Selama ini, itulah dua respon yang sering kujumpai bila ada anak yang
bertengkar. Begitu cara sederhana mereka untuk berbaikan.
Namun, mengapa ia menatapku
ketakutan?
Mengapa angin berembus kencang?
Mengapa ia bangkit dari kursi taman secara perlahan?
Mengapa wajahnya memucat, dan tubuhnya jatuh pingsan?
Comments
Post a Comment