midnight talk on parking lot

 

Lihatlah, gadis itu berjanji akan keluar dari rumah Kara selayaknya manusia normal—dalam hal ini, manusia normal yang dapat berjalan tegak dan pandangan matanya tidak kabur. Yang terjadi, sesuai dengan dugaan Lilian tiga jam lalu, adalah pemandangan gadis yang berjalan sempoyongan ke arah mobil. Matanya tertutup kacamata hijau neon entah milik siapa. Tangannya melambai semangat pada Lilian, seolah tubuhnya yang dibalut dress pendek merah muda akan susah terlihat oleh sahabatnya.

Lilian meringis, membuka jendela mobil. “Ayo masuk, kita pulang setelah ini.”

Jess mengerucutkan bibirnya. Jelas tak setuju dengan ajakan Lilian. Ia membuka pintu dan duduk di samping Lilian, asal melemparkan sepatu hak tingginya ke jok belakang. “Kita mampir ke Mcdonald dulu. Aku kelaparan, pengen makan kentang goreng.”

“Kamu nggak minum-minum kan di dalam?” tanya Lilian seraya berusaha mengendus Jess tanpa ketahuan. Mereka sudah membuat janji, apapun yang terjadi, Jess tak boleh menyentuh minuman apapun. Untunglah Lilian tak mencium bau tak mengenakkan, Jess juga menggeleng kuat—mengonfirmasi penciuman Lilian.

“Aku cuma nari-nari aja, sama ngobrol. Kamu tahu nggak sih, Tiara sudah punya cowok baru. Padahal bukannya dia putusnya baru tiga hari lalu ya. Mana katanya cowoknya juga…”

Lilian membiarkan Jess mengoceh tentang apa saja yang ia dapati di pesta tadi. Jemarinya mengeraskan sedikit volume lagu. Mobil mulai berjalan. Membelah jalanan jam dua belas malam yang sepi, hanya ditemani lampu jalanan dan beberapa mobil. Ah, betapa menenangkannya suasana ini.

Lagu berganti. Kali ini lagu yang sanggup membuat mulut Jess terkunci. Lilian tersenyum. Ia tahu jelas apa yang akan terjadi setelah ini. Jess akan menggumamkan nada di awal lagu, setengah menyanyikan bagian yang ia hafal. Kemudian berbinar matanya saat lagu mendekati bagian chorus.

Dan Jess melakukan semuanya. Setiap langkah yang Lilian bayangkan di kepalanya. Tiba di bagian chorus, keduanya bernyanyi serentak tanpa aba-aba. Suara mereka sama-sama sumbang. Apalagi Jess yang sulit dikategorikan sebagai manusia yang sepenuhnya terjaga. Tapi mana ada yang peduli? Sesi karaoke malam itu tak ada bedanya dengan sesi karaoke di kamar Jess. Di mana mereka menuangkan seluruh hati mereka, menyanyikan lagu favorit mereka sejak usia sepuluh.

Mobil yang dikendarai Lilian memelan lajunya. Lilian dengan ahli membelokkan mobil ke Mcdonald, tersenyum tipis pada Jess yang menepukkan tangan kegirangan. “Sudah kuduga kamu nggak bakal bisa nolak kentang goreng. Pokoknya aku yang traktir, ya!”

Lilian mendengus. “Ceritanya ini gaji sudah mengantarmu kemana-mana ya, Jess?”

Jess menjulurkan lidah, jengkel. “Masa traktir sahabat sendiri ga boleh?”

Lilian tertawa kecil. Membiarkan Jess berbicara pada pegawai Mcdonald, memesan apapun yang ia inginkan. Toh, Jess yang akan membayar semua. Dan Jess selalu ingat pesanan favoritnya. Tak pernah lupa detailnya. Ada jeda dua belas menit sebelum pesanan mereka yang luar biasa banyak muncul di hadapan. Tangan Jess sigap mengambil struk sebelum diraih Lilian. Kebiasaannya supaya Lilian tak terpikir untuk mengganti uangnya di kemudian hari.

“Kamu itu ditraktir Lilian, bukan punya utang.” Begitu kata Jess saat Lilian bersikeras membayarnya. Saat itu Lilian baru saja memenangkan lomba pidato. Dan Jess memberikan kejutan kecil-kecilan—kejutan pertamanya untuk Lilian. Sederhana sebenarnya. Hanya semangkuk bakso dan teh lemon dingin. Tapi ketimbang orang tua Lilian yang tak hadir di penyerahan pialanya, hadiah sederhana Jess lebih dari cukup.

Lilian sudah menyapukan pandangan ke sekeliling Mcdonald, mencari tempat duduk yang nyaman untuk keduanya. Namun sebelum ia menoleh, menanyakan pendapat Jess, ia mendapati sahabatnya berlari ke pintu keluar. Dahinya mengerut, mau apa lagi anak satu itu?

Ketimbang ia berteriak di tempat umum, ia mempercepat langkahnya. Kerutan di dahinya belum menghilang saat Jess mendekati mobil. Meletakkan asal paper bag berisi makanan di atas kap mobil dan berlari kecil ke bagasi. Beberapa menit kemudian, Jess kembali dengan karpet piknik. “Kamu selalu bilang mau piknik bersama kan, Li? Piknik di sini saja!”

Lagi-lagi sahabatnya mengingat apa yang ia impikan sejak lama. Beberapa waktu lalu, Lilian pernah berkisah soal mimpi absurd-nya. Menjalani hidup layaknya anak-anak di moodboard Pinterest-nya. Anak-anak yang sering menjadi subjek iri hatinya. Sebab di dalam foto-foto itu, senyum mereka terpampang lebar. Kegiatan yang mereka lakukan tampak menyenangkan. Jauh dari kata membosankan. Tak pernah terpikir curhatan asal tengah malam itu ditanggapi Jess secara serius.

“Kamu mau bengong di situ atau mau makan, Li?”

Lilian tertawa, berjalan mendekati Jess yang santai duduk di atas karpet piknik. Ia mengeluarkan makanan dari paperbag. Membuka perlahan bungkus kertas yang menyelimuti burgernya. Dua patty dan keju. Favoritnya. “Makasih ya, Jess,” ucapnya sebelum menggigit burger.

Jess mengedikkan bahu. Seolah ucapan terima kasih itu bukan hal yang diperlukan. “Justru aku yang harus berterima kasih ke kamu sih, Li. Nggak banyak orang yang mau jagain aku kalau aku ke pesta begini. Ya memang nggak perlu sih, kan aku juga sudah besar. But still, having someone to lean on in this situation feel sooooo nice.”

“Kamu yang dulu nemenin aku waktu orang tuaku dinas di luar. This is my way to repay—”

“Haduh, repay lagi. Lilianku sayang, ini tuh semacam kode nggak tertulis pertemanan. Kalau salah satu butuh yang lainnya, selama itu ga di luar batas logika, kita harus selalu bantu, kan.” Jess buru-buru memotong. "Kamu bahas repay lagi, kugigit burgermu."

Bukannya bertingkah seolah burgernya adalah objek yang harus dijaga sampai mati, Lilian santai menyodorkan makanannya di depan mulut Jess. "Kalau mau cicip bilang saja, Jess. Aku juga nggak bakalan protes kok." 

Pipi Jess memerah. Malu-malu ia menggigit kecil burger Lilian. Di saat yang bersamaan, jarinya mendorong pelan kotak berisi nugget ke arah Lilian. Tanpa banyak bicara, memperbolehkan Lilian bila sahabatnya ingin mencoba nugget miliknya. Keduanya saling menikmati pesanan sendiri dan pesanan masing-masing. Smartphone Lilian memainkan album penyanyi kesukaan mereka berdua. Mengiringi sesi piknik malam itu.

“Kamu tahu ga sih, selama pesta-pesta itu aku sadar akan satu hal.” Jess berhenti mengunyah kentang gorengnya. Pandangannya lurus, serius menatap Lilian.

Lilian juga berhenti mengunyah burgernya. Melemparkan tatapan sama seriusnya. Fokus menyimak.

“Banyak banget teman-temanku yang datang ke pesta bareng temannya yang lain. Satu mobil, isinya beberapa orang. Tapi begitu pesta, mereka semua pencar ke sasarannya masing-masing. Untuk mereka yang bawa mobil atau dapat tumpangan kenalan sih enak. Nggak perlu ribet pesan taksi malam-malam…” Jess berkisah.

“Tapi sering juga ada anak-anak yang semacam ditinggal sendiri. Saat yang lain punya tumpangan, mereka ribet sendiri karena datangnya bareng teman. Dan temannya ini, begitu pesta mulai langsung lepas tangan. Aku suka kasihan sama mereka yang sendirian. Makanya seringkali aku ajak satu, dua perempuan ikut ke mobil kita.”

Lilian seolah terlempar ke sesi antar jemput pestanya yang lain. Jess memang kerap mengajak beberapa gadis lain untuk pulang bersama. Tapi Lilian selalu berasumsi itu kawan Jess sejak awal. Bukan seseorang yang baru sahabatnya temui di tengah pesta. Yang diajak pulang atas dasar kasihan. Dalam hati ia bertanya-tanya, pernahkah Jess ada di posisi itu? Tertinggal sendirian. Tanpa kawan atau setidaknya seseorang untuk dipercaya? Segala macam kemungkinan hal yang terjadi--mayoritas kemungkinan buruk--hinggap di kepalanya. Lilian bergidik. Berharap skenario itu tak akan terjadi. 

Sementara itu, Jess mengambil saus BBQ. Membalur kentang gorengnya dengan saus. "Aku tahu kamu sekarang sedang berpikir tentang hal-hal buruk yang bisa terjadi. Barangkali menyiapkan rentetan nasihat untuk diucapkan lain kali, kalau aku ada acara lagi."

"Bisa tidak sehari saja, kamu jangan masuk ke dalam pikiranku?" canda Lilian.

Jess tertawa. Menggeleng. "Jelas tidak bisa, Li. Kita sudah sahabatan sepuluh tahun lebih."

“Tapi tahu tidak, aku nggak keberatan dengan tingkahmu soal itu." 

Jess kembali ke nada seriusnya. Tangannya meraih tangan Lilian. "Aku nggak pernah masalah mendengarkanmu ceramah sebelum acara. Meskipun tanpa disebut, aku juga tetap ingat pesan-pesanmu. Aku nggak pernah bercanda dan menyebutmu berlebihan tiap kali kamu menasihatiku. Dan kamu perhatikan kan, setiap kali aku menemukan mobilmu di luar, aku selalu tersenyum kegirangan. Kenapa? Karena nggak semua orang punya teman yang peduli.”

Di bawah sinar rembulan dan lampu parkiran, keduanya bertukar pandang. Lilian mendapati mata Jess berkaca-kaca. Sesungguhnya ini pemandangan yang menggelikan. Jess dengan dandanan party girl, mulut berantakan karena saus, tangan memegang kentang, mati-matian menahan tangis.

Kalau saja Lilian tak menahan air matanya untuk mengucur deras, mungkin ia akan tertawa.

Keheningan menyelimuti keduanya. Bukan keheningan yang menciptakan suasana tak nyaman.

Hening yang ini, menghangatkan.   

  

Comments

Popular posts from this blog

Cerbung: Rollercoaster (1)

Cerpen: Sederhana

Benak: Rinduku pada Balkon Sekolah