falling for a gold rush

gold rush. telingaku pertama mendengar istilah itu, saat mendengarkan lagu taylor swift dengan judul yang sama. deskripsi itu ia sematkan pada seseorang yang disukai sejuta umat. seseorang yang popularitasnya bukanlah canda semata. seseorang yang tak bisa kau pungkiri indahnya, entah hati maupun parasnya.

tujuh belas tahun di dunia, diriku menemukan banyak gold rush di sekitar. baik lelaki maupun perempuan. tak ingin lidahku berdusta. nyatanya, terkadang aku menemukan diriku sendiri menatap cermin. menggerutu, bertanya mengapa aku tak bisa menjadi bagian dari mereka. gold rush yang nampaknya dikerumuni hal-hal baik di dunia.

tak ingin aku menutup mata. aku pernah jatuh pada mereka. saat menatap cermin, ada masa di mana aku juga bertanya. akan kemungkinan yang persentasenya teramat kecil. biasanya sesi itu berakhir dengan aku menggelengkan kepala, mengusir fantasi yang tercipta. meski kemudian pertanyaan itu muncul kembali. “apa mungkin kemustahilan terjadi?”

tentunya itu tak terjadi. tentunya hal itu tetap tersimpan sebagai imaji.

masih segar di kepala, saat patah pertama kurasa. bukan cuma sedih yang hadir di dada. tapi juga tawa. lebih tepatnya, menertawakan diri yang entah kenapa sengaja menenggelamkan hati. padahal berenang saja tak bisa—secara literal, aku memang tak bisa mengambang di kolam renang.

baru-baru ini, aku berhasil memagari lautan. sedikit sakit saat besi itu menancap, padahal fondasi pagar itu belum seberapa kuat. tapi lebih baik begitu. setidaknya aku menyelamatkan diriku dari fase meringkuk di dasar lautan. sendirian, bersusah-payah mencapai permukaan.

namun, wajarkah bila kini aku menatap cermin dan melontarkan pertanyaan. “sampai kapan?”     

Comments

Popular posts from this blog

Cerbung: Rollercoaster (1)

Cerpen: Sederhana

Benak: Rinduku pada Balkon Sekolah