dessert
Manis. Impresi semua orang
kepadanya. Semanis gaun berwarna merah muda yang ia kenakan. Juga kue penuh
krim yang selalu ia santap saat bintang bertebaran. Di hadapan para pelayan,
jemari lentiknya memotong kue tersebut dengan pisau bergagang emas. Putri
bungsu kerajaan itu merasakan kuenya. Para pelayan bertukar tatap. Akankah sang
putri menikmatinya?
Senyum indah terbit di wajah sang
putri. Para pelayan menghela napas lega.
Kadang kala, ada dua senyum indah
yang disaksikan pelayan. Dilengkapi dengan tawa renyah putri saat mendengar
candaan yang dilontarkan pangeran kerajaan seberang. Kadang musik mengiringi,
juga kecupan ringan. Pemandangan itu, di mata pelayan bagai romansa dari buku
cerita.
Setidaknya, sebelum mulut para
pangeran terbuka lebar. Busa putih keluar dari mulutnya. Mengingatkan mereka
akan krim putih dalam kue. Yang tak lagi berwarna putih, sebab cipratan darah
menodainya. Juga menodai pedang yang tersembunyi di bawah meja makan.
Senyum indah terbit di wajah sang
putri. Para pelayan menelan ludah.
another shortfic by ashfalia pramudya
Comments
Post a Comment