tanpa rasa
27 Februari 2022
Ada masa di mana, tuts keyboard
bagaikan piano. Yang setiap ditekan, melantunkan irama indah. Mengeluarkan
kisah dalam benak. Ada masa di mana, tepuk tangan adalah satu-satunya hal yang
ditangkap gendang telinga. Lampu sorot menjadi satu hal yang ia rasakan, hangat
menerpa tubuhnya di tengah kerumunan. Dan setiap ia merasakannya, bibirnya
melengkung ke atas. Tersenyum lebar. Seolah ia ditakdirkan untuk berjaya.
Setidaknya, sebelum materi pelajaran
sekolahnya berubah. Telinganya menangkap materi penuh istilah asing. Juga
tangis di kejauhan, namun matanya tak dapat melihat sumbernya. Sebab kawannya
tak lagi bisa ia temui di kanan kirinya. Namun tanpa mulut terbuka, mereka
mengerti alasan buliran air meluncur dari mata. Membasahi buku tulis, buku
paket, dan layar yang menampilkan tugas sekolah.
Tapi mana bisa ia menangis?
Sementara nilai sekolahnya tetap di atas rata-rata, meski tak bisa dikatakan
bagus pula. Sekitarnya mencukupi kebutuhannya. Membuatnya merasa nyaman meski
terkunci di satu area. Terkadang ia bertanya, haruskah nilaiku rendah hingga
menyentuh dasar jurang, supaya aku berhak merasa kesusahan? Atau haruskah ia
yang berada di dasar sana?
Ah, menulis! Ia masih bisa
melakukannya. Keyboard-nya masih bisa melantunkan irama. Ia masih bisa bahagia.
Bibirnya melengkung ke atas. Tipis,
namun senyuman itu masih terbit. Ia menyalakan laptopnya. Kepalanya bagaikan
tunas yang tumbuh menjadi pohon dalam waktu singkat. Dengan kisah menarik di
tiap cabangnya. Ide itu membuat hatinya meletup-letup. Harapan kembali muncul
ke permukaan. Ia tak perlu lagi merasa tenggelam.
Sampai dokumen baru terpampang di
layar.
Bagaikan kaset rusak, kenangan dua
tahun terakhir berputar di kepalanya. Wajah tak terlihat kawan sekelasnya.
Tugas tak berkesudahan yang diberikan tanpa materi dan pembahasan. Ulangan,
pengakuan mencontek. Jeritan tertahan begitu nilai ujian diumumkan. Konflik
tanpa suara saat kerjasama. Berusaha kenangan itu ia ganti dengan hal gembira.
Tapi ia sudah lupa caranya. Karena ia terbenam akan rutinitas yang sama dari
pagi hingga petang.
Kenangan itu terus berulang. Cabang ide mulai berguguran. Bibirnya tak lagi membentuk lengkungan.
another shortfic by ashfalia pramudya
Comments
Post a Comment