mata terjaga, angkasa, gadis remaja
Sebentar lagi, jarum jam yang pendek
tubuhnya, akan menunjuk angka dua belas. Seharusnya, tiap insan yang mengalami
malam tengah berkelana di alam mimpinya. Ah, barangkali seharusnya bukan
kata yang tepat. Sebab aku yakin, ada insan yang matanya masih terbuka. Entah
menatap layar ddan tugas yang belum terselesaikan, atau langit-langit ruangan.
Bagaimana aku bisa yakin akan
ucapanku? Sederhana. Karena gadis itu masih terjaga.
Ada guling yang dipeluk erat sang
gadis. Pengganti boneka masa kecil yang tak lagi ia miliki di lemari. Orang
tuanya berkata, ia tak boleh berpegangan pada masa kecil terlalu lama. Ada
piring dengan bekas minyak mengkilat di permukaannya. Mulutnya baru saja
merasakan nikmatnya martabak. Berharap setelah perutnya terisi, perlahan ia
akan tertidur pulas.
Gadis itu bertanya pada cahaya lampu
teras. “Apakah kau kelelahan, menyala begitu lama?”
Gadis itu mengharapkan jawaban.
Sayangnya, lampu teras tak bisa berkedip, memberinya tanda.
Gadis itu bertanya pada sweater yang
ia kenakan. “Apa kau senang, membuatku merasa hangat?
Gadis itu mengharapkan bisikan. Sayangnya,
sweater berwarna merah itu tak memiliki jiwa.
Desahan pasrah keluar dari mulutnya.
Nampaknya malam ini, hanya satu hal yang akan menemaninya. Pikirannya. Yang dapat
berganti secepat ia berkedip. Terkadang nampak seperti kanvas penuh warna,
kosong tanpa guratan, maupun terbelah dua. Pikiran yang seringkali mengeluarkan
teriakan. Alih-alih bisikan menenangkan, atau jawaban memuaskan.
Ia memutuskan keluar kamar.
***
Bangkit dari kamarnya, untuk
kemudian duduk di teras rumah bukanlah hal buruk. Meskipun lampu tak bernyawa,
ia bisa merasakan nyawa dari makhluk lain dari sana. Cicitan tikus, kepakan
sayap kelelawar, kucing liar yang masih berkeliaran. Dedaunan yang bergoyang,
ranting menggesek atap.
Dan juga bintang yang bertebaran. Primadona
langit malam.
“Apakah kau selalu terlihat seindah
itu?”
***
Bila benda mati dapat melontarkan
senyuman, maka lampu teras akan melakukannya. Barangkali bintang di langit juga
akan melakukannya. Meskipun mentari belum terbit, teras terasa lebih hangat
karena keberadaannya. Gadis yang menjadikan teras itu sebagai hunian sementara.
Temannya bila terjaga. Tempatnya untuk mendongak, melihat bintang yang
berkelap-kelip indah di atas sana.
Ada tenang yang ia temukan di
angkasa. Dan ia menyukai sensasinya.
Perlahan, pikirannya tak menjadi
teman satu-satunya. Jarum jam menunjukkan angka lainnya, kalender menunjukkan
tahun berbeda. Suara kucing kecil terdengar di rumahnya. Ia mulai bangkit,
melakukan pencapaian kecil di luar kamarnya. Tak bisa dipungkiri, terkadang ia
terjatuh. Terkadang ia kembali memeluk gulingnya. Mencari kehangatan setelah
pikirannya berteriak hingga kehilangan suaranya. Terkadang ia terlelap bukan
karena ingin tertidur, namun ingin melupakan.
Namun tak apa. Ia sudah ada di titik
sadar, mengetahui bahwa gelap dan terang hidup berdampingan.
Dan ia juga tahu satu hal lain. Bahwa
kapanpun itu, ia masih bisa mendongak.
Menatap langit malam. Bintang bertebaran.
Melayangkan keluh, kesah, kisah.
another story by ashfalia pramudya
Comments
Post a Comment